Indonesia Kekurangan Generasi Muda Berprofesi Petani

    Atikah Ishmah Winahyu - 22 Oktober 2020 11:23 WIB
    Indonesia Kekurangan Generasi Muda Berprofesi Petani
    (Ilustrasi) Petani mengikat tanaman sayur ke tiang penopang di Desa Baliase Boya, Sigi, Sulawesi Tengah. ANTARA FOTO/Basri Marzuki
    Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan jumlah petani di Indonesia hingga saat ini berjumlah sekitar 33,4 juta orang. Sebagian besar petani masuk dalam kategori usia tua dan lebih dari 70 persen berpendidikan sekolah dasar.

    “Jumlah petani usia milenial kurang dari 30 persen,” kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan Dedi Nursyams lewat keterangan tertulis, Kamis, 22 Oktober 2020.

    Hanya 3 persen dari 33,4 juta petani tersebut yang lulusan perguruan tinggi. Kondisi ini sangat sulit untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian, menyediakan pangan bagi masyarakat, menyejahterakan petani, dan menggenjot ekspor.

    “Saya agak miris, apa bisa? Maka upaya lebih kencang dan serius lagi untuk menangani SDM kita ini,” tutur Dedi.

    Tantangan terbesar Indonesia mengajak pemuda terjun ke dunia pertanian. Sebab, sektor pertanian belum mampu menjanjikan kesejahteraan bagi pemuda. Indonesia akan kekurangan petani muda kompeten dan berdaya saing jika tantangan ini tak bisa diatasi.

    Beberapa upaya ditempuh pemerintah untuk meningkatkan SDM pertanian. Misalnya, menumbuhkan dan mengembangkan wirausaha muda pertanian, penyiapan calon pekerja sektor pertanian yang kompeten, hingga penguatan kelembagaan penyuluhan.

    Kementan juga membangun jejaring kerja sama perbankan, lembaga penelitian, dan swasta. Strategi ini untuk menciptakan iklim bisnis pertanian yang sehat.

    “Kita ingin pelatihan ini tidak hanya menghasilkan petani pintar budi daya, tapi juga membangun mereka bisa pintar berbisnis,” kata dia.

    Tren petani muda

    Guru Besar Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Sunarru Samsi Hariadi menjelaskan sebagian besar daerah saat ini sektor pertanian belum dikembangkan optimal. Jumlah angkatan kerja di bidang pertanian turun tiap tahun.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah angkatan kerja pertanian pada 2014 mencapai 34 persen. Persentase angkatan kerja itu kembali menjadi turun 31,9 persen pada 2017 dan 29,5 persen pada 2019.

    “Artinya, problem regenerasi ini sangat mengkhawatirkan jika tidak ditangani,” ujar dia.

    Sementara itu, petani muda Ahmad Shofi menyebut ilmu dan teknologi bidang pertanian semakin mudah dan bisa didapat secara bebas. Beragam pengetahuan dapat ditemukan di dunia maya.

    Mudahnya akses pengetahuan mempengaruhi citra psikologis pertanian. Hal ini ditandai lewat munculnya gaya hidup seperti kelompok tani virtual yang menekuni pertanian urban farming, hidroponik, aquaponik, dan permakultur.

    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id