Strategi Pencegahan Karhutla Jokowi, Mulai Gercep Hingga Pemanfaatan Teknologi

    Nur Azizah - 22 Februari 2021 16:12 WIB
    Strategi Pencegahan Karhutla Jokowi, Mulai <i>Gercep</i> Hingga Pemanfaatan Teknologi
    Presiden Joko Widodo. Dok: Medcom.id
    Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) membeberkan langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ke sejumlah pejabat daerah di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Ia mengatakan langkah pertama yang harus dilakukan ialah gerak cepat (gercep).

    "Jangan terlambat. Di negara besar pun ada kejadian kebakaran yang gede-gede, bahkan ada kota yang ikut terbakar. Hal seperti ini betul-betul harus kita jadikan pelajaran," kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin, 22 Februari 2021.

    Jokowi menuturkan bila api sudah membesar, air sebanyak apa pun tidak akan mampu memadamkannya. Kedua, konsolidasi dan koordinasi manajemen lapangan.

    "Di desa kalau ada api kecil langsung beri tahu agar bisa tertangani, kalau sudah terlanjur besar baru ketahuan, sulit memadamkan. Semua harus digerakkan untuk deteksi dini, monitoring di area yang rawan hot spot," ujar Kepala Negara.

    Kepala daerah juga diminta memanfaatkan teknologi mengawasi titik api. Ia menuturkan kerugian akibat karhutla bisa mencapai triliunan rupiah serta kerusakaan ekologi dan ekosistem.

    Baca: Jokowi Ogah Kompromi dengan Pembakar Hutan dan Lahan

    Selain itu, Jokowi meminta monitoring dan pengawasan harus sampai di tingkat bawah. Kepala daerah diminta melibatkan bintara pembina desa (babinsa), bhayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (bhabinkamtibmas), hingga kepala desa.

    "(Pelibatan) untuk pencegahan, beri edukasi terus menerus kepada perusahaan, korporasi masyarakat, terutama di daerah dengan kecenderungan peningkatan hot spot," ujar Jokowi.

    Keempat, solusi permanen untuk mencegah dan menangani karhutla. Jokowi mengatakan 99 persen karhutla terjadi karena ulah manusia, baik disengaja maupun tidak.

    "Karena kelalaian dan motif utama selalu ekonomi, karena saya tahu pembersihan lahan dengan pembakaran itu adalah cara yang paling murah. Karena itu cari solusi agar korporasi dan masyarakat membuka lahan tidak dengan cara membakar," jelasnya.

    Langkah selanjutnya, melakukan penataan ekosistem gambut. Pria kelahiran Solo ini memerintahkan Badan Restorasi Mangrove (BRM) fokus pada kawasan hidrologi gambut.

    "Dengan begitu, permukaan air tanah terjaga. Lalu, buat banyak embung, kanal, sumur bor dengan berbagai teknik pembasahan lain sehingga lahan gambut tetap basah," kata dia. 

    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id