comscore

Gerakan Nonblok Bung Karno Dinilai Bukan Posisi Netral

Fachri Audhia Hafiez - 26 September 2021 14:49 WIB
Gerakan Nonblok Bung Karno Dinilai Bukan Posisi Netral
Patung Bung Karno di Kantor Kemenhan/MI/Susanto.
Jakarta: Pengamat militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie menilai makna Gerakan Nonblok yang diserukan Presiden pertama RI, Soekarno (Bung Karno), bukan berarti posisi netral. Nonblok perlu bergerak mengambil sikap di antara dua kelompok yang berperang.

"Saya baca dokumennya dan itu sama sekali bukan dalam posisi netral, jangan salah," kata Connie dalam Crosscheck #FromHome by Medcom.id bertajuk 'AUKUS, China Panas Indonesia Terimbas?', Minggu, 26 September 2021.
Connie mengatakan Bung Karno sejatinya ingin menyatakan Indonesia tak boleh menjadi pengecut dan harus mengambil posisi. Bahkan, ikut berperang demi mewujudkan perdamaian dunia.

Baca: Ancaman AUKUS Bukan Hanya Kapal Selam Bertenaga Nuklir

"Ini kan menarik, selama ini kita tangkap nonblok ini tidak ke sini ke sana," terang Connie.

Dia lantas membacakan isi pidato asli Bung Karno tahun 1961 terkait Gerakan Nonblok. Pidato itu berbunyi: "Jangan lah Anda salah paham, nonblok bukanlah netralitas. Ini bukan sikap pura-pura alim atau munafik dari seseorang, yang menjauhkan diri dari penyakit menular."

"Political block, bukan lah politik mencari posisi netral jika ada perang. Politik nonblok bukanlah politik netral tanpa warna sendiri."

"Menjadi nonblok tidak berarti menjadi penyangga antara dua kelompok raksasa. Nonblok adalah pengabdian yang aktif bagi cita-cita luhur kemerdekaan yang berpegang teguh pada perdamaian, keadilan sosial, dan kebebasan untuk menjadi merdeka."


Connie mengatakan ketegangan yang terjadi di kawasan Asia Pasifik akibat kehadiran Aliansi Amerika Serikat, Australia, dan Inggris (AUKUS) perlu disikapi menyeluruh. Indonesia meski bersikap bila terjadi eskalasi militer di kawasan Asia Pasifik, merujuk pada pidato Bung Karno.

"Berposisi membela betul-betul apa yang disebut mendukung perdamaian dunia. jadi jangan takut perang, kita harus berani," tegas Connie.

AUKUS adalah pakta pertahanan yang fokus pada kapabilitas militer AS, Australia, dan Inggris. Pakta ini meliputi elemen perang siber, kepintaran buatan (AI), kemampuan bawah laut, dan juga teknologi nuklir.

AUKUS dipandang sebagai sebuah pakta yang tidak sejalan dengan komitmen non-proliferasi nuklir, atau janji untuk tidak membuat atau menyebarkan senjata nuklir. Dalam kesepakatan AUKUS, Australia akan mendapat bantuan dari AS dan Inggris untuk mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir.

Komunitas internasional meyakini AUKUS sebagai salah satu upaya menghadapi pengaruh Tiongkok di kawasan. Namun, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menegaskan AUKUS tidak ditujukan untuk menghadapi Negeri Tirai Bambu.

(ADN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id