Alasan RUU PKS Menggunakan Diksi Kekerasan Ketimbang Kejahatan

    Anggi Tondi Martaon - 21 Juli 2021 21:19 WIB
    Alasan RUU PKS Menggunakan Diksi Kekerasan Ketimbang Kejahatan
    Anggota Komisi III DPR Taufik Basari (Tobas). Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez



    Jakarta: Anggota Badan Legislasi (Baleg) dari Fraksi NasDem Taufik Basari menyampaikan alasan menggunakan diksi kekerasan sebagai judul Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) Pasalnya, ada sejumlah pihak mempermasalahkan diksi tersebut dan diusulkan kata kekerasan diganti menjadi kejahatan.

    "Saya punya kewajiban untuk menjelaskan kenapa kemudian pilihan dari judul atau nomenklaturnya adalah kekerasan, bukan kejahatan," kata Taufik dalam Diskusi Denpasar 12 bertemakan Mengawal RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Dalam Prolegnas 2021, Rabu, 21 Juli 2021.

     



    Ketua DPP Partai NasDem itu menjelaskan salah satu alasannya menjamin perlindungan kepada setiap warga negara dari berbagai bentuk kekerasan. Terutama, kekerasan bersifat seksual.

    "Kalau kekerasan itu dibiarkan maka negara membiarkan orang-orang merasa tidak aman hidup di dalam negara Indonesia," tegas dia.

    (Baca: Pembahasan RUU PKS Disebut Berkutat di Kesalahpahaman)

    Dia menjelaskan klasifikasi RUU PKS berdasarkan ilmu taksonomi atau pengelompokan. Tingkatan paling tertinggi dalam ilmu taksonomi adalah regnum atau kingdom. Sedangkan paling kecil yaitu spesies.

    Berdasarkan ilmu tersebut, RUU PKS dinilai masuk dalam kelompok spesies. Sedangkan hukum secara keseluruhan dianggap sebagai regnum.

    "Kekerasan seksual sebagai spesies yang kemudian nanti diatur jenis-jenis kekerasan seksualnya seperti apa," terang dia.

    Dia mengaku tak mempermasalahkan masukan pergantian kekerasan menjadi kejahatan. Menurut Taufik, hal itu bisa dipertimbangkan.

    "Nanti kita coba dengarkan semua," ujar dia.

    Salah satu pihak yang mengusulkan perubahan kata kekerasan menjadi kejahatan ialah Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PAHAM) DKI Jakarta. Alasannya, terminologi kejahatan lebih luas dan tidak hanya menjerat prilaku kekerasan seksual. Bahkan bisa menjerat hubungan seksual atas dasar suka sama suka di luar perkawinan yang sah atau free seks.

    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id