comscore

Partai Buruh Dinilai Simpan Potensi Besar dalam Politik Indonesia

Arga sumantri - 28 Desember 2021 22:35 WIB
Partai Buruh Dinilai Simpan Potensi Besar dalam Politik Indonesia
Ilustrasi sejumlah buruh menggelar aksi memperingati hari buruh atau May Day di Jakarta. (Foto MI Adam Dwi).jpg
Jakarta: Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi menilai kehadiran Partai Buruh membawa suasana baru dalam kancah perpolitikan Tanah Air. Khususnya, bagi masyarakat yang sudah jenuh dengan situasi politik saat ini.

"Partai Buruh dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang sudah jenuh dengan partai-partai yang hari ini bercorak elitis dan cenderung dikuasai oligarki," ujar Haidar dalam keterangan tertulis, Selasa, 28 Desember 2021.
Menurut dia, gerakan buruh sebenarnya menyimpan kekuatan besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2021, sebanyak 139,81 juta orang merupakan angkatan kerja. Sekitar 78,14 juta orang bekerja di sektor informal dan 61,67 juta orang bekerja di sektor formal.

Dia menilai gerakan buruh belum terorganisasi dengan baik secara politis. Sehingga, kerap dimanfaatkan untuk kepentingan elite tertentu dan menjadi penyangga partai politik tertentu. Baik ketika momentum pemilu maupun ketika memprotes kebijakan pemerintah yang berkuasa.

"Sudah waktunya buruh menjadi penyeimbang tata kelola pemerintahan dengan terjun langsung ke politik melalui partainya sendiri, yaitu Partai Buruh," ungkap dia.

Baca: Soal UMP 2022, Bahlil Minta Buruh Berjiwa Besar

Menurut dia, Partai Buruh bukan partai baru di Indonesia. Menghadapi Pemilu 1999 pasca keruntuhan Orde Baru, sejumlah pemimpin organisasi buruh telah membangun partai politik.

Ada Partai Pekerja Indonesia (PPI), Partai Buruh Nasional (PBN), Partai Solidaritas Pekerja Seluruh Indonesia (PSPSI), Partai Solidaritas Pekerja (PSP), dan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Namun, partai-partai ini gagal dalam Pemilu 1999, bahkan hingga saat ini.

"Masalahnya adalah karena mereka tidak bersatu, tapi terpecah-pecah akibat konflik internal dalam tubuh gerakan buruh itu sendiri," ujar dia.

Dia menyebut kesuksesan Partai Buruh bukan isapan jempol. Berkaca dari Norwegia, negara paling demokratis di dunia, pemilunya dimenangkan Partai Buruh. Kemudian, ada Lula da Silva, seorang aktivis buruh yang tak lulus Sekolah Dasar (SD) berhasil memenangkan pemilu di Brasil dengan angka meyakinkan 61,27 persen. 

Selama dua periode kepemimpinannya, Lula Da Silva dianggap sebagai Presiden paling sukses dalam sejarah Brasil. "Ingat, kesejahteraan buruh hanya bisa diperjuangkan secara maksimal oleh buruh itu sendiri. Bukan melalui partai lain yang hanya mengiming-imingi penitipan aspirasi," ungkap dia.

(AZF)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id