OTT Edhy Prabowo Dinilai Bentuk Lemahnya Pengawasan Terhadap Kabinet

    Kautsar Widya Prabowo - 29 November 2020 15:19 WIB
    OTT Edhy Prabowo Dinilai Bentuk Lemahnya Pengawasan Terhadap Kabinet
    Anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil/Medcom.id/M Sholahadhin Azhar.
    Jakarta: Anggota Komisi III Nasir Djamil menilai operasi tangkap tangan (OTT) terhadap mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo bentuk kegagalan Presiden Joko Widodo dalam menjaga pembantunya di Kabinet Indonesia Maju. Kejadian tersebut menunjukkan minimnya pengawasan terhadap anggota kabinet.

    "Memang ini menunjukkan adanya yang bolong-bolong terkait dengan sistem pengawasan dan pengendalian di kabinet," ujar Nasir dalam program Crosschek Medcom.id, bertajuk KPK OTT Menteri, Bukti Jokowi Perangi Korupsi?, Jakarta, Minggu, 29 November 2020.

    Menurut dia, Jokowi seharusnya menjaga dan mengawasi para menteri dari tindakan rasuah. Dia menilai Jokowi perlu mengevaluasi secara menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan pengendalian para menteri.

    "Ini kan juga menunjukkan belum adanya sistem pengawasan dan pengendalian, sehingga benar-benar clear," tuturnya.

    Baca: Kasus Menteri Edhy Dianggap Momentum Reshuffle Kabinet

    Menurut dia, Jokowi bisa meminta bantuan Sekretaris Kabinet Pramono Anung untuk mengawasi dan mengendalikan para menteri. Dengan begitu, potensi rasuah dapat dicegah sekcil mungkin.

    "Mau tidak mau ibaratnya wajah Jokowi kecipratan juga walaupun memang Presiden bisa saja mengatakan, saya tidak bisa mengawasai pembantu saya 24 jam," jelasnya.

    Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyakini kasus Edhy berdampak terhadap kinerja Kabinet Indonesia Maju yang telah berjalan lebih dari setahun. "Jadi dampaknya ini seperti gempa bumi di tubuh kabinet Presiden Jokowi," teranganya.

    Edhy terjerat operasi tangkap tangan (OTT) KPK, Rabu, 25 November 2020. Ada tujuh tersangka dalam kasus itu di antaranya Edhy, Staf Khusus Menteri KKP Safri, staf istri Menteri KKP Ainul Faqih, pengurus PT Aero Citra Kargo Siswadi, dan Direktur PT Dua Putra Perkasa Suharjito.
     
    Edhy bersama tersangka lainnya diduga menerima uang Rp9,8 miliar dan US$100 ribu. Uang itu dipakai Edhy untuk belanja beberapa barang mewah di Hawaii, Amerika Serikat.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id