Pelonggaran PSBB Harus Ditinjau Ulang

    Anggi Tondi Martaon - 18 Mei 2020 21:59 WIB
    Pelonggaran PSBB Harus Ditinjau Ulang
    Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. Medcom.id/Fachri Audia Hafiez
    Jakarta: Wacana pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) harus melalui pertimbangan matang. Salah satunya, memperhitungkan tingkat penyebaran pandemi covid-19 di tanah air.

    "Saya melihat di sejumlah pemberitaan, banyak pihak sudah merencanakan tata kehidupan baru yang mengarah pada pelonggaran kebijakan setelah Lebaran, di tengah masih bertambahnya kasus positif covid-19," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) di Jakarta, Senin, 18 Mei 2020.

    Politikus NasDem itu mengungkapkan, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mensyaratkan pelonggaran kebijakan harus mampu mengendalikan wabah. Anjuran itu berlaku untuk seluruh negara berdasarkan data epidemiologi yang terukur.

    Persyaratan lain dari WHO adalah negara itu harus bisa mengidentifikasi pusat penularan dan klasternya. Lalu mengisolasi kontak berisiko.

    "Pertanyaanya apakah negara kita sudah memenuhi persyaratan itu semua, di kala kasus positif Covid-19 terus bertambah?" ungkap Rerie.

    Dia menyebutkan, pertambahan jumlah positif covid-19 di Indonesia masih fluktuatif. Namun masih tinggi.  

    Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengungkap pertambahan tertingi jumlah positif covid-19 terjadi pada 13 Mei 2020 dengan 689 kasus. Kemudian pada rentang waktu 14-17 Mei 2020, pertambahannya fluktuatif antara 400 hingga 560 kasus positif covid-19 per hari.

    Baca: 4.324 Pasien Covid-19 Sembuh

    Oleh karena itu, Rerie mempertanyakan wacana pelonggaran kebijakan akhir-akhir ini. Seperti rencana pelajar mulai masuk sekolah pada Juli 2020 dan pekerja di bawah usia 45 tahun bisa beraktivitas kembali. Bahkan pusat perbelanjaan direncanakan mulai buka pada awal Juni 2020.

    "Kenyataan di lapangan memperlihatkan seolah sebaran virus sudah bisa dikendalikan. Jelang Lebaran area publik dan sejumlah pasar kembali dipenuhi pembeli tanpa disiplin menjaga jarak dan bermasker," ujar Rerie.

    Rerie pun menyarankan, pemerintah meningkatkan kemampuan melakukan test covid-19 dan mendisplinkan masyarakat agar mematuhi  kebijakan social distancing daripada melonggarkan PSBB. Kemampuan test covid-19 baru 4-5 ribu sampel per hari.

    "Itu belum cukup untuk menggambarkan kondisi sebaran covid-19 di tanah air yang sebenarnya," sebut dia.

    Baca: 190.660 Spesimen Diperiksa dengan PCR dan TCM

    Rerie kemudian merujuk Vietnam. Menurut Rerie, Indonesia perlu melihat bagaimana Vietnam mengatasi covid-19.

    Negara berpenduduk 97 juta jiwa itu mencatatkan 300 kasus positif covid-19 dan nol kematian. Padahal, Vietnam  berbatasan langsung dengan Tiongkok.

    "Ketegasan dan kecepatan pemerintah Vietnam dalam menghadapi wabah covid-19 merupakan langkah yang patut dicontoh sehingga potensi penyebaran covid-19 bisa dikontrol sejak dini," ujar dia.



    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id