Komisi III Pertanyakan Capim KPK Petahana Tak Lolos

    Whisnu Mardiansyah - 09 September 2019 17:42 WIB
    Komisi III Pertanyakan Capim KPK Petahana Tak Lolos
    Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi petahana Basaria Pandjaitan tak lolos tahap psikotes dalam seleksi capim KPK periode 2019-2024. MI/Rommy Pujianto.
    Jakarta: Anggota Komisi III DPR Muhammad Syafii mempertanyakan dua calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) petahana Laode M Syarif dan Basaria Pandjaitan yang tak lolos seleksi. Basaria tak lolos tes psikologis sementara Laode tak lolos tahap profile assessment.

    Politikus Partai Gerindra itu heran dua nama itu tak lolos di periode berikutnya. Padahal, Ketua Pansel Capim KPK Yenti Ganarsih ikut menyeleksi sosok itu di periode sebelumnya.

    "Pertanyaannya apakah mereka ada yang berubah, sehingga tak lolos pada tes yang sama atau pansel yang sekarang (merasa) nyesal 'kok ngelulusin orang ini' gitu loh," ujar Syafii saat rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Pansel pimpinan KPK, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 9 September 2019.

    Syafii menilai Basaria Pandjaitan salah satu kandidat unggulan dalam seleksi empat tahun lalu. Hal ini membuatnya bertanya mengenai kualitas Basaria. "Tapi di periode ini tes psikologi aja enggak lulus gitu loh, psikologi sudah enggak lulus," ucap Syafii.

    Anggota Pansel Capim KPK Hamdi Muluk mengklarifikasi hal itu. Menurutnya, tak ada jaminan seseorang meraih hasil yang sama di waktu berbeda.

    Kemampuan tes psikologi seseorang bisa saja menurun. Pesaing yang berbeda juga bisa menjadi faktor tak lulusnya Basaria dan Laode pada seleksi ini.

    "Yang lebih penting memahaminya adalah pesaingnya kan dengan yang dulu beda. Nah, sementara logika tes adalah kita mencari orang terbaik. Jadi dari 100 yang tes, kita memerlukan 40 terbaik. Mungkin dulu dia masuk dalam 40 dengan kompetitor yang lebih lemah. Nah sekarang kompetitornya kan beda. Jadi yang kita pahami tes hari ini," jelas Hamdi.

    Hamdi menegaskan Pansel KPK objektif dan independen dalam proses seleksi. Tak ada pengecualian dan perlakuan khusus kepada calon petahana.

    "Kami hanya taat pada nilai dan skor itu. Kami urutkan, kami butuh 40 orang terbaik, ya kami potong. Siapapun di bawahnya ya selesai," pungkas dia.  



    (DRI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id