Panglima Tertinggi Harus Terjun Langsung di Perang Lawan Korona

    Anggi Tondi Martaon - 26 September 2020 21:32 WIB
    Panglima Tertinggi Harus Terjun Langsung di Perang Lawan Korona
    Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers saat meninjau Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin, 23 Maret 2020. Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
    Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta mengomandoi langsung penanganan pandemi virus korona (covid-19). Bukan seperti saat ini, Jokowi dianggap cuma menerima laporan dari tim yang dibentuk.

    "Presidenlah turun tangan langsung," kata epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono kepada Medcom.id, Sabtu, 26 September 2020.

    Menurut dia, selama ini, penanganan pandemi covid-19 dilakukan Gugus Tugas Penanganan Covid-19. Kemudian tim tersebut diubah menjadi Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

    Dia heran dengan keputusan pemerintah membentuk tim khusus itu. Semua tugas sedianya bisa dikerjakan kementerian/lembaga yang dikomandoi langsung Presiden sebagai panglima tertinggi.

    "Kan pandemi bukan hanya kesehatan. Ekonomi juga, sosial juga, ini juga. Dia (Jokowi) tinggal mimpin langsung. Jangan nunjuk orang," ungkap dia.

    Pandu kasihan dengan Kepala Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 sekaligus Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Doni Monardo. Dia diberikan tugas yang bukan keahliannya.
     
     

    "Kalau saya jadi Doni saya enggak mau disuruh gini-ginian. Ini bukan tugas gua," ketus Pandu.

    Dia meminta Jokowi segera mengambil tongkat komando penanganan covid-19. Langkah awal yang harus dilakukan yakni membubarkan tim yang dibentuk.

    "Enggak usah bikin tim, tangani langsung. Kenapa harus bikin tim sih," ujat dia.

    Tidak melakukan apa-apa

    Sebagai pakar penyebaran penyakit, Pandu menilai pemerintah tidak melakukan apa-apa. Pemerintah dianggap bingung membuat kebijakan penanganan covid-19.

    "Pemerintah itu sedang melakukan apa gitu? Toh enggak ada dampaknya sama sekali," kata Pandu.
     
     

    Hal ini terlihat dari peningkatan kasus baru covid-19 di Indonesia. Bahkan, penambahannya konstan di angka empat ribu kasus dalam sepekan terakhir. Hanya pada Senin, 20 September 2020, penambahan kasus di bawah empat ribu, yakni 3.989 kasus baru covid-19.

    "Ini saya juga bingung kok naik terus. Katanya sudah melakukan sesuatu. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh pemerintah itu apa?" ungkap Pandu.

    Baca: Pasien Covid-19 Indonesia Bertambah 4.494 Kasus

    Peningkatan tes polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM) yang masif dianggap tidak bisa dijadikan alasan. Jika kebijakan pemerintah jelas dan tepat, temuan kasus baru bisa ditekan.

    "Kalau enggak ada infeksi ya negatiflah kan. Tapi ini di-testing banyak, di-testing banyak, berarti banyak yang terinfeksi," ujar dia.

    (OGI)
    Read All

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id