Aparat Didesak Tingkatkan Keamanan di Papua

    Cahya Mulyana - 17 April 2021 07:57 WIB
    Aparat Didesak Tingkatkan Keamanan di Papua
    Ilustrasi DPR. Medcom.id



    Jakarta: Anggota Komisi I Bobby Adhityo Rizaldi mendesak aparat meningkatkan keamanan di Papua. Hal itu menyusul penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap guru dan seorang pelajar.

    "Selama 2021, mulai Januari tercatat 13 kali kekejaman KKB terhadap masyarakat sipil. Kami mengutuk kebiadaban ini," kata Bobby kepada Media Group News, Jumat, 16 April 2021.






    Pemerintah mesti meningkatkan kewaspadaan keamanan wilayah Papua dan Papua Barat. Caranya, mengintensifkan patroli gabungan. Dia menegaskan negara harus memberikan perlindungan kepada seluruh rakyat.

    "Dalam kondisi apa pun, di mana pun keberadaan, negara sebagai pelindung masyarakat harus terasa kehadirannya," tegas dia.

    Politikus Golker itu mendorong kinerja intelijen lebih ditingkatkan. Dia menilai dari segi persenjataan KKB tidak kuat.

    "Tapi bisa bersembunyi di tengah masyarakat sipil dan alam rimba sekitar yang memang memerlukan keahlian khusus dari militer Indonesia untuk melakukan pengejaran," ujar dia.

    Sementara itu, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengutuk aksi KKB yang menembak mati seorang pelajar SMA, Ali Mom, 16, di kampung Wuloni Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, Kamis, 15 April 2021. Negara mesti bertindak.

    (Baca: Satgas Nemangkawi Sebut Keadaan Distrik Boega Sudah Kondusif)

    "Kami mengutuk sekeras-kerasnya penembakan dua guru di Beoga, Papua, dan menyampaikan duka terdalam bagi keluarga korban," ujar dia.

    Usman menyebut pembunuhan secara sengaja terhadap laki-laki, perempuan, dan anak-anak tidak pernah dapat dibenarkan. Hal itu jelas bentuk penghinaan terhadap prinsip-prinsip fundamental hak asasi manusia (HAM).

    "Hukum internasional mewajibkan negara untuk menghukum pelakunya dan memberikan keadilan untuk korban," tegas dia.

    Usman mendesak aparat berwenang di lapangan segera melakukan penyelidikan imparsial, independen, dan menyeluruh. Mereka yang bertanggung jawab mesti diadili sesuai ketentuan hukum yang berlaku dan tanpa menggunakan hukuman mati.

    Dia juga mendesak pemerintah memastikan respons atas kejadian itu tidak menimbulkan siklus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang baru. "Aparat keamanan mempunyai sejarah panjang melakukan aksi balasan yang berakhir dengan warga sebagai korban. Kejahatan ini tidak boleh dijadikan alasan untuk merepresi dan melanggar hak asasi manusia warga di Papua," ujar dia.

    Peristiwa kekerasan keempat

    Kapolres Puncak Kompol I Nyoman Punia menyebut penembakan terhadap Ali Nom menggenapkan empat kekerasan yang dilakukan KKB selama sepekan. "Almarhum Ali Mom dicegat, dibacok, dan ditembak ketika mengantarkan pesanan pinang ke Kampung Wuloni,” ujar I Nyoman Punia dalam keterangan tertulis, Jumat, 16 April 2021.

    Pelajar kelas 2 SMA itu baru bisa dievakuasi Jumat pagi. Pasalnya tempat kejadian perkara masuk zona merah serta penerangan sangat buruk.

    Pembunuhan terhadap Ali Mom menambah panjang daftar kebiadaban KKB. Dalam sepekan, empat orang menjadi korban.

    KKB membunuh dua orang guru, Oktavianus Rayo dan Yonathan Renden, dan seorang tukang ojek bernama Udin. KKB juga melakukan teror berupa pembakaran sekolah, rumah guru, memeras warga, dan membakar helikopter.

    Kapten Kogabwilhan III Kolonel Czi IGN Suriastawa membenarkan kejadian tersebut. Dia menyebut ketiga front Organisasi Papua Merdeka (OPM) sudah frustasi.

    Front politik frustasi karena upaya menggagalkan revisi UU Otsus tidak berhasil. Front bersenjata semakin terjepit dengan operasi penegakan hukum yang digelar Polri dibantu TNI.

    “Front klandestinnya juga frustasi karena modusnya di bidang media sudah terbongkar,” ungkap dia.

    Suriastawa mengatakan jurnalis dan media pro OPM aktif menyebar berita bohong dan memutar kejadian lama seolah baru saja terjadi. Media pendukung OPM memuat berita tentang kaburnya oknum prajurit TNI dari Yonif 410.

    Suriastawa membenarkan hal itu. Namun, kejadiannya pada 12 Februari 2021, bukan kejadian baru dan sudah diberitakan di berbagai media.

    “Oknum prajurit tersebut kabur dari pos tanpa membawa senjata dan sampai saat ini tidak jelas keberadaannya. Saya juga mengimbau kepada masyarakat di Ilaga dan sekitarnya untuk lebih berhati-hati dan waspada akan aksi teror front bersenjata OPM yang saat ini sedang frustasi,” ujar dia.

    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id