5 Jurus Satgas Mengantisipasi Gelombang Ketiga Covid-19

    Theofilus Ifan Sucipto - 18 Oktober 2021 08:50 WIB
    5 Jurus Satgas Mengantisipasi Gelombang Ketiga Covid-19
    Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito. Dok. Tangkapan layar



    Jakarta: Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 memprediksi gelombang ketiga terjadi pada akhir 2021. Sejumlah strategi telah disusun guna mengantisipasi gelombang ketiga penularan covid-19.

    Berikut lima jurus Satgas Penanganan Covid-19 mengantisipasi gelombang ketiga:

    1. Pemerintah terus berusaha meningkatkan kapasitas tes covid-19
    2. Tetap menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berlevel
    3. Sosialisasi terus dilakukan guna mendorong kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes) dengan disiplin
    4. Mempercepat program vaksinasi nasional
    5. Memperketat akses masuk dari luar negeri ke Indonesia.

    Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry Harmadi menjelaskan keberlanjutan penerapan PPKM membuat mobilitas masyarakat terpantau dan terkendali. Terutama, mobilitas masyarakat di tengah pembukaan aktivitas.

    Sonny juga mengingatkan masyarakat tetap harus memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun untuk mencegah penularan covid-19. Kemudian membatasi mobilitas dan menghindari kerumunan.

     



    Di samping itu, dia bersyukur lebih dari 100 juta orang telah menerima vaksin dosis pertama. “Namun, ini tetap harus dipercepat meskipun saat ini kasus covid-19 di Indonesia melandai,” tutur Sonny  dalam keterangan tertulis, Senin, 18 Oktober 2021.

    Baca: Baca: Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19, Rerie: Semua Elemen Harus Disiplin

    Sonny menyampaikan pemerintah akan tetap memperketat akses masuk dari luar negeri ke Indonesia untuk mencegah masuknya varian baru. Sonny memerinci akses masuk melalui moda transportasi udara hanya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang; dan Sam Ratulangi, Manado.

    Sementara itu, akses darat hanya boleh di Entikong, Kalimantan Barat; Aruk, Kalimantan Tengah; Nunukan, Kalimantan Timur; dan Motaain Nusa Tenggara Timur, yang berbatasan dengan Timor Leste. “Akses laut juga hanya dua, yaitu Batam dan Tanjungpinang,” papar dia.

    Pelaku perjalanan internasional, termasuk pekerja migran Indonesia (PMI) mesti menjalani tes polymerase chain reaction (PCR) begitu tiba di Indonesia. Kementerian Kesehatan sudah mengirim alat tes cepat molekuler sehingga hasilnya cepat diketahui.

    “Dalam waktu satu jam sudah bisa memisahkan orang yang positif dan negatif,” ucap Sonny.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id