Pengangkatan Stafsus Milenial Dianggap Bentuk Balas Budi Jokowi

    Medcom - 23 November 2019 15:01 WIB
    Pengangkatan Stafsus Milenial Dianggap Bentuk Balas Budi Jokowi
    Presiden Joko Widodo dan tujuh staf khusus baru dari kalangan milenial. Foto: ANT/Aprilio
    Jakarta: Juru bicara Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Kholid mengatakan, kehadiran tujuh staf khusus (stafsus) presiden dari kalangan milenial adalah bentuk balas budi politik Presiden Joko Widodo kepada partai koalisi. Selain itu, pengangkatan stafsus juga dianggap sebagai bentuk politik akomodasi.  

    “Ini adalah politik akomodasi, baik dari partai politik maupun dari relawan, ini juga menjadi ajang pembuktian mereka sebenarnya karena sebenarnya lembaga kepresidenan sudah banyak sekali, ada Seskab, Menseskab, KSP, Watimpres, utusan khusus, coba bayangkan, tambun sekali,” ujar Kholid saat acara Talkshow 'Efek Milenial di Lingkaran Istana' di Hotel Ibis Tamarin, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 23 November 2019. 

    Menurut Kholid, seharusnya, organisasi yang benar adalah sudah terlebih dulu ada fungsi dan tugas, baru kemudian penempatan orang. Namun, saat ini, pemerintah malah dinilai menghadirkan jabatan yang tidak jelas fungsinya.

    Selain itu, Kholid menyampaikan, di dalam sebuah koalisi yang berisi banyak partai politik, pembagian kekuasaan (power sharing) tak terelakan. Ia meyakini, pembagian kekuasaan ini bisa merembet ke posisi-posisi strategis lainnya. 

    “Ya walaupun awalnya Jokowi sempat bilang kalau beliau tidak akan bagi-bagi kekuasaan, namun kenyataan politiknya ya seperti ini. Sama juga nanti dengan 140 BUMN nah itu bisa power sharing juga,” pungkas Kholid. 

    Stafsus Presiden Aminudin Ma'ruf dalam kesempatan yang sama membantah tudingan Kholid. Menurut dia, keberadaan stafsus presiden adalah membantu meringankan beban Presiden dalam mengurus kurang lebih 260 juta penduduk Indonesia. 

    Tugas stafsus, kata dia, menjadi teman diskusi yang memberikan sumber second opinion terhadap gagasan inovasi percepatan prioritas kerja pemerintah. “Misalnya dari sisi birokrasi, Jokowi kemarin berpesan kepada kita, jangan terjebak dalam kerumitan birokrasi negeri ini. Harus kita yang menularkan kerja cepat kepada birokrasi lama,” tegas Aminudin.

    Untuk itu, kehadiran stafsus presiden ini diharapkan tidak menjadi gimik politik, melainkan dapat berdampak dalam pengambilan keputusan presiden.

    Jokowi sebelumnya mengenalkan tujuh stafsus baru dari kalangan milenial. Mereka yakni Direktur Utama Ruangguru Adamas Belvasyah Devara, CEO Creativepreneur Putri Indahsari Tanjung, CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra, perumus Gerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi, pendiri Yayasan Kitong Bisa Billy Mambrasar, CEO Thisable Enterprise Angkie Yudistia, dan mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Aminuddin Maruf. (Glory Natha)



    (DMR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id