comscore

Stok dan Harga Pangan Aman, Jokowi Puji Mentan Syahrul Yasin Limpo

Andhika Prasetyo - 07 Juli 2022 12:11 WIB
Stok dan Harga Pangan Aman, Jokowi Puji Mentan Syahrul Yasin Limpo
Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo/BPMI Setpres
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengapresiasi kinerja Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo. Mentan terbukti dapat menjaga kuantitas produksi pangan dalam tiga tahun terakhir, utamanya komoditas beras. Hasil positif tersebut membuat Indonesia bisa terhindar dari ancaman krisis pangan global.

"Harga bahan pangan di seluruh dunia naik. Ada yang naiknya 30 persen. Ada yang sudah 50 persen. Untungnya kita ini, alhamdulillah, rakyat kita utamanya petani masih berproduksi beras dan sampai saat ini harganya belum naik, moga-moga tidak naik," ujar Jokowi dalam Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional di Medan, Sumatra Utara, Kamis, 7 Juli 2022.
Kepala Negara menyebut produksi padi nasional begitu melimpah bahkan melebihi angka kebutuhan dalam negeri sejak 2020. Indonesia tidak lagi mengimpor beras seperti yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.
 

Baca: Indonesia Dinilai Beruntung Bisa Penuhi Kebutuhan Pangan


"Karena stoknya selalu ada dan sudah tiga tahun kita tidak impor beras lagi. Biasanya kita impor 1,5 juta ton sampai 2 juta ton. Ini sudah tidak impor lagi. Ini Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo) hadir di sini. Terima kasih Pak Menteri," ucap presiden.

Jokowi berpesan kepada SYL untuk tidak berpuas diri. Pasalnya, masyarakat Indonesia tidak hanya mengonsumsi beras. Ada banyak bahan pangan pokok lain yang juga dibutuhkan, dan sayangnya tidak banyak bahkan tidak bisa diproduksi di Tanah Air, contohnya gandum.

"Kita impor gandum gede banget, 11 juta ton. Hati-hati yang suka makan roti, yang suka makan mi. Itu bisa naik harganya karena ada perang di Ukraina," tutur Jokowi.

Ia menjelaskan perang antara Ukraina dan Rusia berdampak besar terhadap kenaikan harga gandum dan produk-produk turunannya. Itu terjadi karena lebih dari 40 persen produksi gandum berasal dari dua negara Eropa Timur tersebut.

Ketika berkunjung ke Kyiv, Jokowi sempat bertanya ke Presiden Volodymyr Zelenskyy tentang stok gandum di Ukraina. Zelenskyy mengatakan ada sekitar 77 juta ton gandum yang tersimpan. Stok tersebut tidak bisa dikirim ke luar negeri karena ada perang yang berkecamuk.

Hal serupa terjadi di Rusia. Di Negeri Beruang Merah, stok gandum yang tertahan bahkan jauh lebih besar yaitu menyentuh 137 juta ton.

"Karena barang itu tidak bisa ke luar dari Ukraina, dan Rusia, negara-negara Afrika dan beberapa di Asia, yang menjadikan gandum sebagai bahan pangan utama, kini sudah mulai kekurangan pangan akut. Sudah mulai yang namanya kelaparan. Bayangkan. Ini terjadi karena ketergantungan gandum kepada Ukraina dan Rusia," jelas Jokowi.

(ADN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id