KPAI: 20% Peserta Apel Ganyang Komunis Anak-Anak

    Kautsar Widya Prabowo - 05 Juli 2020 20:43 WIB
    KPAI: 20% Peserta Apel Ganyang Komunis Anak-Anak
    Peserta apel siaga membawa anak dalam acara Ganyang Komunis. Dok. KPAI
    Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut terdapat sejumlah anak-anak terlibat dalam aksi Apel Siaga Ganyang Komunis. Fenomena tersebut terpantau di dua lokasi, Tanggerang dan Jakarta.

    "Dari ribuan peserta yang hadir pada aksi massa di dua lokasi, 15 sampai 20 persen peserta apel akbar adalah anak-anak," ujar Komisioner KPAI bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra, dalam keterangan tertulis, Minggu, 5 Juli 2020.

    Jasra menyebut tidak kali pertama anak-anak dilibatkan dalam acara yang digelar oleh sejumlah organisasi masyarakat (ormas) Islam. Ironisnya anak-anak dibiarkan terjemur terik sinar matahari, sedangkan panitia acara berada dalam keteduhan panggung.

    "Sudah kesekian kali anak-anak terlibat aksi tanpa sanksi yang tegas," tuturnya.

    Peserta kegiatan tersebut juga tidak menaati protokol kesehatan. Beberapa ada yang tidak menggunakan masker dan menjaga jarak selama acara berlangsung.

    "Pemandangan di lapangan memperlihatkan ada orang tua yang bermasker dan tidak. Begitupun balita ada yang bermasker dan tidak," bebernya.

    Baca: Massa Aksi Ganyang Komunis Tuntut Keadilan

    Masa transisi pembatasasan sosial berskala besar (PSBB) di DKI Jakarta seharusnya dipatuhi peserta aksi dengan menjaga jarak. Data penyebaran covid-19 terhadap anak-anak per 16 Juni 2020, mencapai 3.155 anak, dengan rincian anak umur nol sampai lima tahun sebanyak 888 anak dan umur enam sampai 17 tahun sebanyak 2.267 anak.

    Kondisi ini semakin diperburuk dengan adanya perkaatan kasar yang mengarah kepada kebencian terlontar dari beberapa peserta. Hal itu akan berpengaruh kepada perkembangan jiwa anak-anak.

    Seperti kata menghalalkan sembelih orang, sembelih komunis, menjadi kata terbanyak yang disampaikan pada aksi tersebut. Paparan kekerasan dalam bentuk verbal dapat ditelan mentah-mentah oleh anak-anak.

    "Berharap para penegak aturan perlindungan anak dapat memberi sanksi tegas, agar dampak risiko, ancaman jiwa masa depan anak-anak Indonesia dapat di selamatkan sejak dini," imbuhnya.

    (AZF)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id