Program Rehabilitasi Hutan Serap 8,2 Juta Tenaga Kerja

    Andhika Prasetyo - 18 November 2019 10:27 WIB
    Program Rehabilitasi Hutan Serap 8,2 Juta Tenaga Kerja
    Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar (tengah) meninjau lokasi persemaian bibit Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) kawasan hutan lindung di kaki Gunung Slamet, Dukuh Tengah, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Foto: Antara/Oky Lukmansyah.
    Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) akan memberi dampak signifikan terhadap pembukaan lapangan kerja. Program RHL diprediksi bisa menyerap jutaan tenaga kerja. 

    Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar mengatakan setiap hektare (ha) lahan yang akan disemai membutuhkan 30 hingga 40 tenaga kerja. Dengan begitu, program RHL yang mencapai 206 ribu ha akan menyerap sekitar 8,2 juta tenaga kerja.

    "Dalam jangka pendek, peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat terjadi karena adanya pelibatan dalam pembibitan dan penanaman," kata Siti di Jakarta, Senin, 18 November 2019.

    Siti menambahkan dalam jangka panjang masyarakat dapat menikmati hasil hutan bukan kayu dari tanaman RHL. Misalnya nangka, cengkeh, bahkan macadamia yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis sangat tinggi.

    Pemerintah telah menyiapkan pagu anggaran Rp2,7 triliun untuk program RHL pada 2019. Biaya tersebut dialokasikan untuk penanaman pohon di areal seluas 206 ribu ha, serta pengembangan kebun bibit dan persemaian di beberapa wilayah.

    Jumlah luasan program RHL ini meningkat sepuluh kali lipat dari realisasi program serupa tahun sebelumnya yang hanya mencapai 23 ribu ha.

    KLHK akan berkeliling Indonesia guna melakukan observasi ke persemaian-persemaian, baik yang disiapkan pemerintah maupun milik masyarakat. "Observasi penting dilakukan karena keberhasilan tumbuh kembang pohon dimulai dari pembibitan yang baik," ungkap Menteri Siti. 

    Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) Hudoyo mengungkapkan program RHL sangat penting sebagai upaya pencegahan banjir dan kekeringan. Ia percaya kalau pohon yang tumbuh bagus, air yang dihasilkan juga baik. 

    "Lingkungan yang baik akan memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat," kata Hudoyo.

    Menurut Hudoyo, keberadaan pohon dapat menahan kenaikan suhu bumi yang disebut sebagai perubahan iklim. Mengutip satu penelitian, Indonesia perlu menanam pohon di areal seluas 800 ribu ha per tahun agar memiliki iklim yang stabil dan sejuk.

    Di Indonesia, rehabilitasi akan diarahkan pada destinasi wisata super prioritas seperti Danau Toba, Mandalika, Borobudur, Labuan Bajo dan Likupa, serta daerah calon ibu kota baru di Kalimantan Timur.

    Selain itu, rehabilitasi juga akan dilakukan pada 15 daerah aliran sungai prioritas, 15 danau prioritas, daerah rawan bencana banjir dan tanah longsor, serta daerah hulu dari 65 bendungan/waduk.

    "Selain yang kita lakukan bersama masyarakat, pemerintah meminta pengusaha yang memakai kawasan hutan melalui Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) untuk melakukan rehabilitasi kawasan dengan penanaman pohon," papar Hudoyo.



    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id