Pansel Bantah Membunuh Karakter KPK

    Whisnu Mardiansyah, Faisal Abdalla - 09 September 2019 13:17 WIB
    Pansel Bantah Membunuh Karakter KPK
    Suasana rapat dengar pendapat Pansel capim KPK dengan Komisi III DPR. Foto: Medcom.id/Whisnu Mardiansyah
    Jakarta: Anggota Komisi III DPR fraksi Partai NasDem Jacki Uli menyebut ada tudingan panitia seleksi (pansel) calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (capim KPK) ikut menyumbang pembunuhan karakter Lembaga Antirasuah. Jacki pun meminta pansel mengklarifikasi tudingan tersebut. 

    "Sejauh mana kecurigaan itu timbul sehingga ada tuduhan seperti ini? Apakah karena ada kolusi? Apakah karena pertemanan atau persaudaraan?" kata Jacki dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi III di kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 9 September 2019. 

    Jacki menilai tudingan yang juga ramai di media massa ini patut menjadi perhatian pansel capim KPK. Sebab, bila dibiarkan akan menjadi bola liar dan justru membentuk opini publik. Jacki sendiri menilai kerja pansel secara umum sudah serius dan cukup baik.

    "Tolong itu dibersihkan dulu (tudingan miring), dijelaskan," ujarnya.

    Ketua Pansel KPK Yenti Ganarsih menjelaskan kalau timnya sudah bekerja keras sejak awal menyaring calon pimpinan KPK. Bagi Yenti, tudingan miring terhadap pansel bagian dari dinamika. Ia pun mengaku siap bertanggungjawab apa yang sudah menjadi keputusan pansel.

    "Sampai saat ini insyallah kami bisa mempertanggungjawabkan tugas-tugas pansel yang dibebankan, ditugaskan, diamanahkan oleh presiden (Presiden Jokowi) kepada kami," jelas Yenti.

    Yenti kemudian curhat tentang perjalanan pansel capim KPK. Ia mengatakan pansel dirundung sejak awal dibentuk. Mulai dari tudingan pansel yang tidak mengerti korupsi hingga tak memahami institusi KPK. Ia pun memastikan tudingan itu tak benar, termasuk soal adanya capim 'pesanan'. 

    Yenti mengakui dirinya tak lepas dari perundungan publik sejak menjabat sebagai ketua pansel. Yenti mengatakan ada yang melabeli dirinya sebagai staf ahli Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabaerskrim), hingga tenaga ahli Kepala Lembaga Pendidikan Polisi (Kalemdikpol. "Tidak satu pun ada SK (surat keputusan) tentang itu," tegas Yenti. 

    Yenti mengibaratkan dirinya sebagai 'guru' semua penyidik tindak pidana pencucian uang (TPPU). Baik itu di lembaga kepolisian, kejaksaan, bea cukai, pajak, hingga Badan Narkotika Nasional (BNN). 

    "Paling tidak tentang saya itu tidak benar. Pembunuhan karakter yang lain masing-masing bisa menyampaiakan sejauh mana itu kebenarannya," jelas Yenti.



    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id