Tantangan Pemerintah Menjaga Stabilitas Keamanan

    Dheri Agriesta - 21 Januari 2016 14:32 WIB
    Tantangan Pemerintah Menjaga Stabilitas Keamanan
    Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla. Antara Foto
    medcom.id, Jakarta: Masalah yang dihadapi beberapa negara nyaris sama: politik, ekonomi, dan sosial. Suhu politik di Indonesia relatif stabil, yang patut diwaspadai masalah keamanan berlatar belakang ekonomi dan sosial.

    Wakil Presiden Jusuf Kalla membandingkan suhu politik Indonesia dengan Malaysia, Thailand, atau Philipina. Menurut dia, tensi politik di Indonesia cenderung lebih stabil dibandingkan tiga negara tetangga itu.

    "Partai sudah bersatu mendukung program pemerintah yang lebih baik. Jadi, kita tidak punya masalah," kata Jusuf Kalla di MNC Tower, Jakarta Pusat, Kamis (21/1/2016).

    Yang menjadi tantangan pemerintah adalah stabilitas keamanan meski tidak sebesar negara lain. JK mengakui, ada masalah keamanan di Indonesia, namun oleh segelintir masyarakat.

    Banyak faktor yang membuat keamanan tidak menentu. Di antaranya karena uang, pengaruh kelompok radikal dari negara lain, dan pemerintah.

    Dua kelompok radikal yang saat ini mendominasi adalah Alqaeda di Yaman dan ISIS di Suriah dan Irak. JK mengatakan, semua tahu Saddam Hussein diktator saat memimpin Irak, tapi kemunculan kelompok radikal di Irak membuat negara ini kacau.

    "Yang terberat yang menyebabkan itu terjadi ya radikalisme barat yang menghantam negeri ini atas nama demokrasi," ujar JK.

    Politikus Golkar itu mengatakan, Amerika menyerang beberapa negara dengan mengatasnamakan demokrasi. Akhirnya, negara Arab saling serang.

    Masalah keamanan juga timbul karena pemuda marah akan masa depannya, kemudian memiliki ideologi membunuh orang bisa masuk surga. Ia mencontohkan, Afif, terduga teroris di Jalan M.H. Thamrin, tidak takut membawa pistol ke manapun.

    "Saya berharap itu tidak terjadi lagi," ujar JK.

    Menurut JK, media berperan membuat suasana aman dengan membuat berita lebih fair dan memberikan harapan. "Karena, kalau media menyajikan pesimisme masyarakat akan bahaya," katanya.

    JK mengatakan, media juga jangan berlebihan karena akan menimbulkan kesenjangan sosial. Ia tidak ingin ada sinetron yang mempertontonkan kemewahan secara berlebihan. "Kesenjangan itu jauh lebih berbahaya," kata JK.

    (TRK)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id