Telepon Kapolri, Jokowi Perintahkan Basmi Premanisme di Tanjung Priok

    Nur Azizah - 10 Juni 2021 16:53 WIB
    Telepon Kapolri, Jokowi Perintahkan Basmi Premanisme di Tanjung Priok
    Presiden Joko Widodo mendengarkan curhat sopir kontainer. Setpres



    Jakarta: Presiden Jokowi Widodo (Jokowi) menerima banyak aduan terkait premanisme dan pungutan liar (pungli) terhadap sopir kontainer saat berkunjung ke Tanjung Priok, Jakarta Utara. Jokowi langsung memanggil ajudannya, Kolonel Pnb. Abdul Haris dan memintannya menghubungi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melalui telepon.

    "Pak Kapolri selamat pagi," kata Jokowi melalui sambung telepon, Jakarta, Kamis, 10 Juni 2021.

     



    "Siap, selamat pagi Bapak Presiden," jawab Listyo di ujung telepon.

    Dalam percakapan itu, Kepala Negara menyampaikan keluhan para sopir tersebut. "Enggak, ini saya di Tanjung Priok, banyak keluhan dari para driver kontainer yang berkaitan dengan pungutan liar di Fortune, di NPCT 1, kemudian di Depo Dwipa," jelas Jokowi.

    Selain itu, Jokowi menyampaikan banyaknya premanisme, terutama saat lalu lintas macet. Jokowi memerintahkan Listyo segera menuntaskan persoalan tersebut.

    "Kalau pas macet itu banyak driver yang dipalak preman-preman. Keluhan ini tolong bisa diselesaikan. Itu saja Kapolri," kata Jokowi.

    Listyo langsung mengamini perintah Jokowi. Jokowi berjanji akan terus mengikuti proses penuntasan kasus premanisme di Tanjung Priok itu.

    "Perintahnya ke Kapolri biar semuanya jelas dan bisa diselesaikan di lapangan. Nanti saya ikuti proses ini. Kalau keluhan-keluhan seperti itu tidak diselesaikan, sudah pendapatannya sedikit, masih kena preman, masih kena pungli, itu yang saya baca di status-status di media sosial. Keluhan-keluhan seperti itu memang harus kita selesaikan dan diperhatikan," ucap Jokowi.

    Baca: Sopir Kontainer Tanjung Priok Mengeluh Soal Premanisme dan Pungli ke Jokowi

    Sebelumnya, Agung Kurniawan, salah seorang sopir mengaku kerap menjadi sasaran tindak premanisme. Tak jarang, Agung dan teman seprofesinya diancam dengan senjata tajam.

    "Begitu keadaan macet, itu di depannya ada yang dinaiki mobilnya, naik ke atas mobil bawa celurit atau nodong begitu, itu enggak ada yang berani menolong Pak," ujar Agung kepada Jokowi, Jakarta, Kamis, 10 Juni 2021.

    Hal yang sama juga dialami sopir kontainer lainnya, Abdul Hakim. Menurutnya, kemacetan menjadi penyebab para preman bisa leluasa menjalankan aksinya.

    "Kalau mungkin lancar, ini mungkin tidak ada, Pak. Jadi ini kendala kita ini kemacetan. Jadi kami mohon kepada Bapak Presiden, bagaimana solusinya? Karena kami, Pak sakit hati sebenarnya, Pak kalau dibilang sakit hati," ucap Abdul.

    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id