Andi dan Belva Mundur Bisa Jadi Pelajaran untuk Stafsus Milenial Lain

    Candra Yuri Nuralam - 24 April 2020 20:59 WIB
    Andi dan Belva Mundur Bisa Jadi Pelajaran untuk Stafsus Milenial Lain
    Presiden Joko Widodo dan tujuh staf khusus baru dari kalangan milenial. Foto: Medcom.id/Damar Iradat
    Jakarta: Keputusan Andi Taufan Garuda dan Adamas Belva Syah Devara mundur dari jabatan staf khusus milenial Presiden Joko Widodo diapresiasi. Hal itu dinilai sikap tanggung jawab yang benar.

    "Itu merupakan sikap ksatria. Bertanggung jawab atas apa yang diperbuat. Inilah ciri milenial," kata Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia Ali Rif'an di Jakarta, Jumat, 24 April 2020.

    Ali mengatakan mundurnya Andi dan Belva harus menjadi pelajaran bagi stafsus milenial presiden lainnya. Stafsus milenial harus serius menjalankan amanah Jokowi di pemerintahan.

    "Kita mendukung stafsus milenial lain untuk tetap berada di pemerintahan. Jadi yang salah mundur, tapi yang baik harus dipertahankan," ujar Ali.

    Dia meminta stafsus milenial memberikan representasi yang baik di muka publik. Pasalnya, kata Ali, tindakannya bakal dicerminkan milenial yang lain.

    Tindakan yang dilakukan Andi dan Belva sebelum mundur pun bukan berarti penggunaan milenial dalam stafsus gagal. Menurut Ali, penggunaan kaum milenial dalam pemerintahan sudah harus terjadi pada era saat ini.

    "Kita sedang memasuki bonus demografi. Kelompok usia produktif ini tidak boleh hanya jadi objek perubahan, tapi harus jadi subjek perubahan. Kita mengapresiasi Presiden Jokowi yang mengakomodir milenial masuk pemerintahan. Ini sudah sesuai dengan lanskap demografi kita dan tantangan global," tutur Ali.

    Baca: Lagi, Stafsus Jokowi Mundur

    Masyarakat diminta tidak melihat stafsus milenial dari sikap Andi dan Belva. Stafsus milenial harus terus berjalan ke depannya.

    Menurut dia, ada empat basis argumentasi milenial perlu masuk pemerintahan. Pertama, menjawab tantangan gobal dan revolusi industri 4.0. Kedua, tantangan bonus demografi. Ketiga, pembangunan SDM menuju Indonesia Emas 2045. Keempat, memutus mata rantai oligarki.

    "Untuk itu, saya kurang sepakat kalau stafsus milenial dibubarkan. Tetap anak-anak muda terbaik bangsa harus berkontribusi masuk gelanggang pemerintahan," ujar Ali.

    (AZF)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id