Virus Korona Lebih Urgen Ketimbang Eks Kombatan ISIS

    Candra Yuri Nuralam - 10 Februari 2020 11:08 WIB
    Virus Korona Lebih Urgen Ketimbang Eks Kombatan ISIS
    Ilustrasi: Medcom.id
    Jakarta: Pemerintah didesak melupakan isu pemulangan eks kombatan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Isu ini dianggap tak mendesak.

    "Pemerintah sekarang menurut saya lebih harus lebih banyak berkonsultasi bagaimana mencegah virus korona yang sekarang ini sudah merebak di mana-mana," kata Wakil Ketua Umum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 10 Februari 2020.

    Menurut dia, pemerintah harus memusatkan fokus menangkal masuknya virus korona yang pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok. Selain itu, pemerintah masih punya pekerjaan rumah soal jaminan kesehatan. 

    "Masih juga tuntutan sebagian rakyat kecil yang minta penurunan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) itu yang paling penting menurut saya," tutur Dasco.

    Anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan Arteria Dahlan meminta pemerintah teliti soal pemulangan eks kombatan ISIS ke Tanah Air. Dia meminta negara tegas meninggalkan WNI eks kombatan ISIS yang sudah tidak memenuhi syarat. Pemerintah diminta bisa memilah dengan bijaksana.

    "Kita buat klaster yang memang mengenai hukum negara yang bersangkutan sudah tidak memenuhi syarat sebagai WNI kita bisa lakukan penyikapan," tutur Arteria.

    Anggota DPR Asrul Sani juga menolak pemulangan mantan kombatan ISIS. Hanya anak dan istri para eks kombatan yang dinilai layak kembali ke Tanah Air.

    "Karena faktor-faktor terpaksa (mereka) ikut suami kemudian sudah sadar dan menyadari ISIS itu sesat," kata Asrul, Minggu 9 Februari 2020.

    Menurut dia, jika memang rencana pemulangan eks ISIS terjadi, pemerintah perlu mengecek latar belakang setiap orang. Pemerintah harus bisa benar-benar memastikan setiap orang yang dipulangkan tidak membawa paham ISIS ke Indonesia.

    Selain itu, Asrul meminta pemerintah tidak langsung membiarkan para eks ISIS langsung kembali ke keluarga. Mereka harus dikarantina untuk memastikan benar-benar bersih dari radikalisme.

    Virus Korona Lebih Urgen Ketimbang Eks Kombatan ISIS
    Pesantren deradikalisasi di Sumatra Utara yang dikelola mantan teroris Khorul Ghazali. Foto: MI/Puji Santoso

    Sementara itu, gembar-gembor faktor kemanusiaan dinilai hanya kedok agar WNI eks ISIS direstui kembali ke Tanah Air. Faktor kemanusiaan tidak bisa menjadi satu-satunya pertimbangan memulangkan WNI.
     
    "Dalam proses ini kemanusiaan sebagai entry point, sebagai cover story," kata anggota Komisi I DPR Willy Aditya, Minggu, 9 Februari 2020.
     
    Menurut politikus Partai NasDem itu, isu kemanusiaan sengaja dibangun kelompok teroris. Cara itu menjadi pintu masuk agar eks teroris bisa kembali ke negara asal.

    Presiden Joko Widodo, kata dia, sudah menegaskan menolak pemulangan 600 WNI eks ISIS. Keselamatan negara dan keamanan rakyat Indonesia harus diutamakan.
     
    "Presiden sudah ngomong gitu, sudah kurang kode keras apa?" tegas Willy.





    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id