DKPP: Dunia Impikan Suasana TPS Seperti di Indonesia

    Antara - 07 Oktober 2020 07:13 WIB
    DKPP: Dunia Impikan Suasana TPS Seperti di Indonesia
    Ilustrasi-- Petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) melakukan rekapitulasi surat suara di tingkat Kecamatan di GOR Mangga Dua Selatan, Sawah Besar, Jakarta. (Foto: ANTARA/Nova Wahyudi)
    Bali: Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Didik Supriyanto menyebut atmosfer demokratis yang terjadi di tempat pemungutan suara (TPS) saat proses pencoblosan dan penghitungan suara di Indonesia sangat diimpikan kalangan dunia internasional.

    "Suasana TPS di Indonesia merupakan suatu hal yang diimpikan oleh banyak orang di luar negeri," kata Didik di Badung, Bali, Selasa, 6 Oktober 2020.

    Didik mengamati pelaksanaan pemilu dan pilkada sejak 2004. Dalam kurun waktu tersebut, dia melihat suasana damai di TPS, penuh dengan toleransi, masyarakat berbaur, dan bercanda satu sama lain.

    "Belum lagi dengan sorak sorai saat penghitungan suara di TPS. Hal ini tidak terjadi di luar negeri," ucap dia.

    Didik membandingkan kondisi TPS di Tanah Air dengan negara-negara demokrasi lain. Menurut dia, kondisi TPS di negara lain tidak meriah seperti di Indonesia.

    "Di banyak negara, memang terjadi antrean panjang di TPS saat hari pencoblosan. Namun setelah menggunakan hak pilihnya, orang-orang tersebut lebih memilih untuk pulang dibandingkan berdiam diri di TPS," ujar anggota Panwaslu pada Pemilu 2004 itu.

    Baca: Penyelenggara Pemilu Harus Jaga Keaslian Suara Pemilih di Pilkada

    Didik mencontohkan pemilu di Inggris. Menurut dia, setelah pihak berwenang di Inggris akan membawa kotak suara ke sebuah tempat yang mirip dengan alun-alun. Kotak suara dibuka dan dihitung di tempat tersebut.

    "Tak ada transparansi di TPS. Rakyat Inggris pun tidak dapat segera mengetahui hasil dari suara yang telah digunakannya. Sedangkan TPS di Indonesia sangat transparan karena memang suara dari pemilih langsung dihitung dan ditonton oleh masyarakat," kata dia.

    Desain penghitungan juga tidak memberi ruang terjadi kecurangan atau manipulasi suara di TPS. Sebab, semua partai politik mengirimkan saksinya di setiap TPS.

    "Praktik pemungutan dan penghitungan di TPS kita merupakan 'the best practice in the world' yang ingin sekali ditiru oleh negara-negara lain," ucap Didik.

    Selain itu, lanjut dia, tidak ada konflik yang terjadi antara sesama perwakilan partai politik di TPS. Menurut dia, kondisi itu harus dipertahankan dalam pelaksanaan pilkada atau pemilu berikutnya.

    Khusus Pilkada Serentak 2020, kata Didik, mungkin akan sangat sulit untuk melihat kondisi TPS yang cair, riuh, dan semarak. Pasalnya, pelaksanaan pesta demokrasi daerah itu berlangsung di tengah pandemi covid-19.

    "Pilkada kali ini memiliki tantangan yang sangat berbeda karena harus mengutamakan aspek kesehatan, selain juga aspek-aspek demokrasi. Kami berharap para penyelenggara disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan covid-19," kata dia.

    Menurut Didik, petugas harus benar-benar diedukasi dan dilatih untuk menaati protokol covid-19 secara ketat. Dengan begitu, pemilih tidak ragu untuk datang ke TPS.

    "Jika pemilih yang datang ke TPS itu sedikit, meskipun pemenangnya tetap dilantik tentu akan menimbulkan persoalan dari sisi legitimasi karena hanya dipilih oleh sebagian kecil pemilih," ujar dia.

    Didik juga mengajak insan pers untuk menjalankan fungsi kontrol sosialnya agar protokol kesehatan covid-19 tetap berjalan secara maksimal dalam pelaksanaan Pilkada 2020.

    (AZF)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id