Menko PMK: Rokok Ranjau Bagi Nawacita

    Antara - 24 Oktober 2020 02:59 WIB
    Menko PMK: Rokok Ranjau Bagi Nawacita
    Menko PMK Muhadjir Effendy. Foto: Medcom.id/Citra Larasati
    Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyebut ada sembilan misi pembangunan dalam Nawacita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin. Di antaranya peningkatan kualitas manusia Indonesia, pembangunan yang merata dan berkeadilan, dan kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa.

    "Rokok bisa menjadi ranjau bagi ketiganya," kata Muhadjir dalam Malam Penghitungan Suara Festival Pemilu Harga yang disiarkan akun YouTube Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) TV secara langsung, Jumat, 23 Oktober 2020.

    Muhadjir mengatakan rokok membuat kualitas manusia Indonesia terganggu, menciptakan ketidakadilan serta perilaku merokok tidak mendukung upaya memajukan budaya bangsa. Dia menjamin penanggulangan rokok menjadi komitmen besar pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).

    "Rokok mengancam manusia Indonesia pada semua usia, termasuk yang masih dalam kandungan. Banyak riset sudah menunjukkan bahaya asap rokok terhadap janin yang ada di dalam kandungan, karena ibunya merokok atau menjadi perokok pasif," tutur dia.

    Baca: AMTI Minta Presiden Pertimbangkan Rencana Kenaikan Cukai Rokok

    Muhadjir mengakui belum ada pembicaraan dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait dengan kenaikan harga rokok. Namun, dia mengatakan pemerintah terus menaikkan harga rokok secara terukur diikuti dengan upaya mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap zat adiktif tersebut.

    "Pemerintah tidak akan bisa berbuat banyak tanpa ada dukungan dari para aktivis yang peduli. Bagaimana pun masyarakat tidak bisa percaya sepenuhnya pada pemerintah tanpa ada tokoh-tokoh yang mengampanyekan bahaya rokok," ujar dia.

    CISDI, Komite Nasional Pengendalian Tembakau, Pusat Kajian Jaminan Sosial (PKJS) Universitas Indonesia, dan Jaringan Perempuan Peduli Pengendalian Tembakau (JP3T) mengumpulkan suara publik secara daring untuk mendukung pemerintah menaikkan harga rokok sejak Agustus 2020. Penjaringan suara melalui portal pulihkembali.org itu menunjukkan 95 persen responden menginginkan harga rokok yang mahal.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id