Pakar: Juri Ardiantoro Tak Pas Masuk Timsel KPU dan Bawaslu

    Anggi Tondi Martaon - 17 Oktober 2021 15:08 WIB
    Pakar: Juri Ardiantoro Tak Pas Masuk Timsel KPU dan Bawaslu
    Pakar hukum tata negara Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar. Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto



    Jakarta: Keberadaan Juri Ardiantoro di Tim Seleksi (Timsel) Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dikritik. Sebab, eks anggota KPU itu memiliki rekam jejak sebagai anggota tim sukses (timses) Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden (Wapres) Maruf Amin (Jokowi-Maruf) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

    "Dengan segala hormat dengan Pak Juri, saya tahu kapasitasnya di wilayah kepemiluan, tapi bagaimana pun tidak pas menurut saya dia (Juri) dimasukkan, apalagi dia punya rekam jejak sebagai timses," kata pakar hukum tata negara dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar melalui diskusi virtual, Minggu, 17 Oktober 2021.

     



    Dia menegaskan rekam jejak Juri sebagai mantan timses Jokowi-Maruf sangat berbahaya. Dia khawatir akan ada pesanan dari pihak tertentu.

    "Saya tidak usah mengatakan ya atau tidak, tapi saya yakin orang-orang di sini yang pernah menjadi pansel bahwa ada titipan itu sebenarnya sering kali ada tendensi ke arah sana," ungkap dia.

    Ketua Tim Seleksi Anggota KPU dan Bawaslu, Juri Ardiantoro. Foto: Medcom.id Siti Yona Hukmana
    Ketua Tim Seleksi Anggota KPU dan Bawaslu, Juri Ardiantoro. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana

    Dia menegaskan pemilihan calon anggota KPU dan Bawaslu juga merupakan tahapan yang substantif. Timsel harus memilih orang-orang yang tepat untuk mengisi posisi penyelenggara pemilu.

    Baca: Jaga Independensi, Tim Pansel Anggota KPU-Bawaslu Susun Kode Etik

    Dia mengaku tak mempermasalahkan jika pemilihan anggota KPU dan Bawaslu diwarnai unsur politis. Namun, jangan dilakukan pada tahapan seleksi calon anggota KPU dan Bawaslu.

    "Kalau ada kepentingan politik Presiden, maka masuklah melalui parpol pendukung Presiden di fit and proper test, jangan di sini. Karena ini adalah polesan substantif, bukan polesan politisnya," ujar dia.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id