KY Dituding Sengaja Loloskan Hakim Agung Bermasalah

    Achmad Zulfikar Fazli - 13 Oktober 2016 18:21 WIB
    KY Dituding Sengaja Loloskan Hakim Agung Bermasalah
    Anggota Komisi III dari Fraksi PDIP Masinton Pasaribu. Foto: Antara/Agung Rajasa
    medcom.id, Jakarta: Komisi Yudisial (KY) dituding sengaja meloloskan lima hakim agung bermasalah administrasi. Lembaga negara sekelas KY seharusnya punya data lengkap calon hakim agung ketika diseleksi.
     
    Anggota Komisi III DPR RI Masinton Pasaribu mengatakan, perlu ditelusuri untuk mencari tahu apakah ada unsur kesengajaan atau memang kecolongan. Namun, Masinton secara pribadi tidak yakin masalah ini muncul lantaran adanya kecolongan dari KY.
     
    "Kalau saya menduga pasti ada unsur kesengajaan," kata Masinton kepada Metrotvnews.com, Kamis (13/10/2016).
     
    Menurut Masinton, KY seharusnya punya data lengkap calon hakim agung ketika diseleksi. Sehingga, sangat kecil kemungkinan bisa kecolongan dengan lolosnya hakim cacat syarat.
     
    Politikus PDI Perjuangan ini mengakui Komisi III tak teliti menerima nama calon hakim agung hasil seleksi KY. Sebab, jika Komisi III teliti, hakim agung cacat syarat tak akan terjadi. "Harusnya saat itu digugurkan, dikembalikan lagi nama-nama yang tidak memenuhi syarat itu," kata dia.
     
    Anggota Komisi III DPR Komisi III DPR Aboe Bakar Alhabsyi mempertanyakan kinerja KY dengan lolosnya lima hakim agung cacat syarat. Politikus PKS ini menyebut ada beberapa faktor yang menyebabkan masalah ini timbul, di antaranya faktor kecerobohan, kesengajaan atau faktor lainnya.
     
    Menurut dia, hal ini merupakan persoalan yang serius. Sebab, syarat menjadi hakim agung sudah diatur dalam Pasal 7 angka 6 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung.
     


    Persyaratan pengalaman untuk calon hakim agung bersifat akumulatif. Artinya untuk diangkat menjadi hakim agung harus berpengalaman paling sedikit 20 tahun menjadi hakim, termasuk paling sedikit tiga tahun menjadi hakim tinggi.
     
    "Keduanya harus terpenuhi sekaligus," ujarnya.
     
    Sebelumnya, Hakim Agung Gayus Lumbuun mengungkapkan ada lima hakim agung yang tidak memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Mahkamah Agung. Syarat untuk menjadi hakim agung salah satunya ialah berpengalaman menjadi hakim tinggi selama tiga tahun.
     
    "Ada lima. Dua pimpinan MA, tiga hakim agung yang tidak memenuhi syarat Pasal 7 dalam UU MA. Ada yang cuma setahun (jadi hakim tinggi), ada yang setahun lebih," terang Gayus kepada Media Indonesia, 3 Oktober 2016.
     
    Gayus meminta agar hakim agung yang cacat syarat dicopot. Hal itu dinilai sebagai bentuk awal dari reformasi bidang hukum.
     
    Menurut sumber Media Indonesia, Ketua MA Hatta Ali merupakan salah seorang dari lima hakim agung yang cacat syarat. Pasalnya, ia menjabat sebagai hakim tinggi kurang dari tiga tahun.
     
    Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Hatta Ali menjadi hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Denpasar pada 2003. Selanjutnya, pada 2004 ia merangkap sebagai Sekretaris Ketua MA dan 2005 menjabat Dirjen Badan Peradilan Umum I. Dua tahun kemudian, pada 2007, Hatta Ali diangkat menjadi hakim agung. Setelah itu, pada 8 Februari 2012, ia terpilih menjadi orang nomor satu di MA.



    (FZN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id