Begini Jurus KLHK Tekan Emisi Gas Rumah Kaca dari Sektor Kehutanan

    Theofilus Ifan Sucipto - 21 Juli 2021 18:54 WIB
    Begini Jurus KLHK Tekan Emisi Gas Rumah Kaca dari Sektor Kehutanan
    Hutan. Foto: MI/Aries Munandar



    Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) optimistis Indonesia berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 29 persen pada 2030. KLHK telah membuat peta jalan guna mencapai target tersebut.

    “Indonesia berkomitmen dari sisi mitigasi untuk menurunkan emisi rumah kaca 29 persen dengan upaya sendiri dan 41 persen dengan adanya dukungan teknologi dan finansial dari negara-negara maju,” kata Wakil Menteri KLHK Alue Dohong dalam telekonferensi di Jakarta, Rabu, 21 Juli 2021.

     



    Menurut Alue, ada lima sektor yang menjadi perhatian pemerintah. Sektor tersebut, yakni energi, limbah sampah, produksi industri dan penggunaan produk, pertanian, serta kehutanan.

    Baca: Keberhasilan di COP26 Glasgow Bisa Jadi Pijakan Indonesia Pimpin G20

    Alue menyebut sektor dengan kontribusi terbesar ialah kehutanan dan tata guna lahan sebesar 17 persen. Kemudian sektor energi berkontribusi sebesar 11,03 persen.

    “Dua sektor ini jadi tulang punggung pencapaian target penurunan emisi sampai 2030,” papar dia.

    Dia memerinci peta jalan mitigasi sektor kehutanan. Pertama, penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan.

    Cara kedua, yakni membangun hutan tanaman dan penanaman di hutan tanaman industri (HTI). Penanaman bertujuan mengurangi karbon dioksida di atmosfer melalui proses fotosintesis.

    “Yang ketiga kita menjalankan sustainable forest management (SFM/manajemen hutan berkelanjutan),” tutur Alue.

    Alue menyebut SFM terdiri dari dua turunan strategi, yaitu mewajibkan pemegang izin hak pengusahaan hutan (HPH) menebang hutan dengan bertanggung jawab. Dengan begitu, penebangan hutan tidak menyebabkan emisi.

    “Yang kedua enhanced natural regeneration (ENR) jadi proses regenerasi alami yang terjadi di HPH,” tutur dia.

    Cara keempat, yakni rehabilitasi dengan rotasi dan rehabilitasi nonrotasi. Terakhir, yakni pengelolaan lahan gambut.

    “Caranya dengan restorasi gambut dan perbaikan tata air gambut,” ujar Alue. 

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id