Membaca 'Kabinet' Baru Airlangga

    Arga sumantri - 06 Desember 2019 09:01 WIB
    Membaca 'Kabinet' Baru Airlangga
    Ketua Umum Golkar terpilih Airlangga Hartarto di malam penutupan munas X Golkar. Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
    Jakarta: Airlangga Hartarto dipastikan kembali memimpin Partai Golkar untuk masa bakti 2019-2024. Ia terpilih secara aklamasi dalam forum musyawarah nasional (Munas) X Golkar yang berlangsung sejak 3-5 Desember 2019 di Hotel Ritz Carlton Jakarta. 

    Tugas paling dekat Airlangga yaitu menyusun struktur kepengurusan lima tahun mendatang. Airlangga punya waktu maksimal 60 hari menyusun 'kabinet' yang akan membantunya 'mengemudikan' partai berlambang pohon beringin. 

    Nama-nama anggota 'kabinet' baru Airlangga masih jadi teka-teki. Termasuk, ada tidaknya nama Bambang Soesatyo (Bamsoet) beserta para pendukungnya, dalam struktur kepengurusan.

    Bamsoet merupakan calon ketum Golkar pesaing Airlangga yang memutuskan mundur teratur. Bamsoet yang disebut-sebut potensial menjegal Airlangga, melempar handuk jelang Munas X Golkar dibuka, Selasa, 3 Desember 2019. 

    Ada sejumlah nama politikus Golkar yang jadi loyalis Bamsoet. Sebut saja Ahmadi Noor Supit, Nusron Wahid, Syamsul Rizal, Andi Sinulingga, Misbakhun, dan Bendahara Umum Golkar demisioner Robert Kardinal.

    Hingga malam penutupan Munas X Golkar, Kamis, 5 Desember 2019, Airlangga baru mengumumkan Lodewijk Paulus sebagai Sekretaris Jenderal yang bakal mendampinginya lima tahun ke depan. Pengumuman ini disampaikan Airlangga di hadapan Bamsoet ketika berpidato. 

    "Saya akan dibantu kader Partai Golkar yang tidak pernah minta apa-apa, yaitu Pak Sekjen Lodewijk Paulus," ucap Airlangga. 

    Selain itu, Airlangga juga mengungkap nama-nama senior Golkar yang mengisi sejumlah jabatan elite. Mereka yaitu Aburizal Bakrie selaku Ketua Dewan Pembina, Ketua Dewan Kehormatan Akbar Tanjung dan Ketua Dewan Pakar Agung Laksono. 

    Ada juga posisi Ketua Dewan Etik yang dipercayakan kembali kepada M Hatta. Posisi ini sebelummya bernama Majelis Etik.

    Sejatinya, ada satu posisi lagi di jajaran elite kepengurusan Golkar, yaitu jabatan Dewan Penasihat. Namun, Airlangga masih belum mengumumkan nama yang akan mengisi jabatan ini hingga Munas X Golkar ditutup. Dua nama yang santer bakal mengisi posisi tersebut yaitu eks Wakil Presiden Jusuf Kalla, juga tokoh senior Golkar Luhut Binsar Panjaitan.

    Airlangga mengatakan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Golkar periode 2019-2024 mengamanatkan kalau jumlah pengurus DPP Golkar minimal sebanyak 117 orang. Menurut Airlangga, saat ini nama yang tengah dibahas untuk calon pengurus sebanyak 268 orang.

    "Tentu pengurus ini adalah pengurus baru. Pengurus 2017-2019 sudah demisioner," ujar Airlangga.

    Nomenklatur baru

    Munas X Golkar juga memutuskan bakal ada 'kursi' baru dalam struktur kepengurusan DPP Golkar lima tahun mendatang, yaitu jabatan wakil ketua umum. Bab IX Pasal 12 AD/ART Golkar menyebutkan kepengurusan DPP Golkar mendatang bisa memiliki minimal dua orang wakil ketum.

    "Banyak tidaknya, jumlahnya, (tergantung) ke ketua umum," kata pimpinan sidang Munas X Golkar yang sekaligus Wakil Ketua DPR, Azis Syamsuddin.

    Isi lengkap pasal itu menjelaskan kalau struktur DPP Golkar terdiri atas ketua umum, ketua harian (bila diperlukan), wakil ketua umum (sekurang-kurangnya dua orang), ketua bidang, sekretaris jenderal, wakil sekretaris jenderal, bendahara umum, wakil-wakil bendahara umum, dan departemen-departemen. 

    Munas X Golkar memutuskan Airlangga sebagai ketua formatur tunggal. Dengan begitu, Airlangga diberi kewenangan penuh menentukan struktur kepengurusan. 

    Airlangga akan dibantu oleh empat anggota formatur yang telah dipilih. Mereka yaitu Ahmad Doli Kurnia mewakili wilayah barat, Zainudin Amali mewakili wilayah tengah, Melki Laka Lena mewakili wilayah timur, dan Ilham Permana mewakili ormas Golkar.

    "Munas kali ini benar-benar transformatif. Perubahannya mengarah Golkar sebagai partai modern. Jadi, perubahan di AD/ART banyak, termasuk soal struktur," ungkap Ahmad Doli.

    Airlangga berjanji bakal merampungkan struktur kepengurusan dalam 45 hari. Ia juga menegaskan tak ada lagi istilah kelompok pendukung Airlangga dan Bamsoet. "Yang ada adalah kader Partai Golkar. Dan saya akan menjadi pemimpin seluruh Partai Golkar di mana pun berada," ucap Airlangga.

    Munas yang 'adem' dinilai bukan jaminan bagi Golkar lepas dari potensi kegaduhan. Bila tidak cermat, penyusunan struktur kepengurusan bisa saja membuat internal Golkar kembali menghangat. 

    Pengamat Politik Adi Prayitno mengatakan politik akomodatif penting guna menghindari perpecahan di internal Golkar pascamunas. Menurut Adi, siapa pun yang menang harus mampu mengakomodasi mantan pesaingnya. Jika tidak, bukan tidak mungkin benih perpecahan Golkar justru mekar setelah pelaksanaan munas.

    "Akomodasi di struktur (kepengurusan) atau misalnya di alat kelengkapan dewan (AKD) di DPR. Enggak bisa yang menang semaunya," kata Adi kepada Medcom.id.



    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id