Pemerintah Disarankan Berpaling Dulu dari Masalah Ekonomi

    Kautsar Widya Prabowo - 12 Mei 2020 02:17 WIB
    Pemerintah Disarankan Berpaling Dulu dari Masalah Ekonomi
    Petugas menasihati para pedagang tentang jam malam saat penerapan hari pertama PSBB di pasar tumpah, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin, 11 Mei 2020, malam. Foto: Antara/Makna Zaezar
    Jakarta: Pemerintah diminta melihat perkembangan jumlah kasus penyebaran virus korona (covid-19) sebelum mengeluarkan kebijakan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kesehatan masyarakat diharap menjadi masalah nomor satu dibandingkan soal ekonomi.

    "Angka kematian masih tinggi," kata anggota Koalisi Warga untuk Laporcovid-19, Irma Hidayana, dalam diskusi virtual, Senin, 11 Mei 2020.

    Menurut dia, jumlah kasus covid-19 terus meningkat, terutama kasus kematian. Dalam seminggu terakhir, ia mencatat ada beberapa daerah yang semula tidak ada penambahan orang dalam pemantaun (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP), tetapi kemudian ada peningkatan.

    "Ketika relaksasi wacana PSBB digaungkan, kami merasa sedih. Setiap hari input data angkanya terus naik," tutur dia.

    Epidemiolog dan peneliti Eijkman-Oxford Clinical Research Unit Iqbal Elyazar juga meminta pemerintah mengeluarkan kebijakan berdasarkan sains dan kondisi terkini. Baik dan buruknya kebijakan harus dipikirkan secara matang.

    "Perlu ada penjelasan, kalau kebijakan itu diambil, berapa jumlah kenaikan kasusnya," tutur Iqbal.

    Sementara itu, tahapan pemulihan ekonomi Indonesia telah beredar di publik. Pada tahap pertama Senin, 1 Juni 2020, industri dan jasa bisnis ke bisnis (B2B) dapat beroperasi dengan social distancing, memenuhi persyaratan kesehatan dan menjaga jarak.

    Toko, pasar, dan mal belum boleh beroperasi, kecuali toko penjual masker. Sektor kesehatan ful beroperasi, sedangkan kegiatan di luar ruangan hanya diperkenankam untuk berkumpul dua orang.
     
    Pada Senin, 8 Juni 2020, toko, pasar, dan mal diperbolehkan beroperasi dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan toko tidak diperkenankan dalam keadaan ramai. Kegiatan usaha berkontak fisik belum diperbolehkan, sedangkan kegiatan di luar ruangan hanya diperkenankan untuk berkumpul dua orang.
     
    Tahapan berikutnya Senin, 15 Juni 2020, toko, pasar, dan mal tetap seperti pada tahap dua, tetapi kegiatan usaha berkontak fisik mulai diperbolehkan dengan protokol ketat. Ada pembukaan museum dan tiket dijual secara daring. Sekolah tatap muka berlaku dengan proses sif dan kegiatan di luar ruangan mulai diperkenankan.
     
    Pemerintah Disarankan Berpaling Dulu dari Masalah Ekonomi

    Baca: Epidemiolog Sebut Belum Waktunya Pelonggaran PSBB

    Pada Senin, 6 Juli 2020, pembukaan yang dilakukan pada tahap ketiga dievaluasi dengan ditambah pembukaan restoran, kafe, bar, gimnasium, dan sebagainya. Kegiatan di luar ruangan diperkenankan lebih dari 10 orang. Warga bisa bepergian ke luar kota dengan pembatasan dan kegiatan keagamaan dibuka dengan pembatasan.
     
    Terakhir pada Senin, 20 Juli 2020, dan Senin, 27 Juli 2020, dilakukan evaluasi atas tahapan ketiga dan melakukan pembukaan dengan skala besar. Akhir Juli atau awal Agustus diharapkan seluruh kegiatan sektor perekonomian dibuka dengan tetap menjalani protokol kesehatan dan dilakukan evaluasi secara berkala hingga vaksin ditemukan.
     
    Informasi lengkap tentang perkembangan penanganan pandemi covid-19 bisa langsung diakses di sini.



    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id