Pemerintah Tak Mengabaikan Penanganan Stunting di Tengah Pandemi

    Achmad Zulfikar Fazli - 16 Juli 2020 21:30 WIB
    Pemerintah Tak Mengabaikan Penanganan <i>Stunting</i> di Tengah Pandemi
    Ilustrasi/Dok. Pexels.com
    Jakarta: Pemerintah tetap berupaya menurunkan angka stunting bagi anak-anak balita di tengah pandemi covid-19. Pasalnya, stunting merupakan bagian dari program nasional yang harus diantisipasi agar generasi ke depan menjadi lebih baik.

    “Jangan sampai walaupun di tengah covid-19 kita abai dengan persoalan stunting. Bagaimana kita mengupayakan ada kesadaran baru buat ibu-ibu muda di tengah kebiasaan baru ini tetap memperhatikan itu (stunting)," ujar Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Widodo Muktiyo dalam webinar, Kamis, 16 Juli 2020.

    Widodo menjelaskan secara sosiologis selama pandemi terdapat problematika sosial di masyarakat. Seperti angka kekerasan di rumah tangga yang meningkat akibat kebijakan stay at home. 

    Namun, kata dia, tantangan terbesar bagi pemerintah yakni bagaimana menyikapi stunting dalam situasi produktif tapi aman covid-19. Kominfo memiliki tanggung jawab mendiseminasi dan sosialisasi terkait stunting agar bisa dimengerti dan dijalankan oleh masyarakat. 

    "Dalam diseminasi kita juga perlu membutuhkan strategi-strategi yang dimungkinkan bisa efektif menurunkan angka stunting dan aman covid-19," ucap dia. 

    Stunting merupakan kekurangan gizi kronik pada anak yang terjadi sejak 1.000 hari pertama kehidupan yang mengakibatkan kondisi gagal tumbuh. Standar angka stunting berdasarkan aturan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni di bawah 20 persen.

    Baca: Suplementasi Gizi Lokal untuk Anak Indonesia selama Pandemi Covid-19

    Dari hasil riset kesehatan, angka stunting di Indonesia menurun signifikan menjadi 27, 6 persen. Presiden Joko Widodo telah menargetkan angka prevalensi stunting turun menjadi 14 persen pada 2024.

    Isu stunting menjadi penting karena Indonesia akan mengalami bonus demografi pada 2030. Di mana jumlah penduduk produktif jauh lebih besar daripada jumlah penduduk tua dan anak-anak. Kelompok usia ini akan menjadi lokomotif banyak perubahan baik dan beragam kemajuan di berbagai bidang.

    Selama pandemi covid-19, terjadi lonjakan kehamilan dan penurunan peserta KB aktif sebanyak 10 juta pada April 2020. Risiko yang mengintai ialah stunting, kematian ibu, dan menjadi beban ekonomi di masa pandemi.

    Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Kirana Pritasari menyebut stunting sebagai kondisi yang berkepanjangan. Bahkan bisa dimulai sejak seorang ibu hamil.

    “Kalau balita mengalami stunting atau penurunan kualitas SDM (sumber daya manusia) itu tidak kita rasakan sekarang tapi kita akan rasakan di masa depan, 15 sampai 20 tahun ke depan,” ujar Kirana.

    Sementara itu, kelompok masyarakat sipil mendorong kesadaran kolektif institusi keluarga agar paham dan mengerti akan bahaya stunting bagi anak-anak. Peran keluarga dinilai penting dalam mencegah stunting

    "Penting bagi setiap ibu untuk memahami apa itu stunting, termasuk memahami 1.000 hari pertama pasca kelahiran,” ujar Mira Sahid dari kumpulan Emak Blogger.

    Kominfo terus mengampanyekan gerakan hidup sehat di masa pandemi covid-19. Salah satunya dengan memanfaatkan aplikasi Anak Sehat. Terobosan ini diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mewujudkan pola hidup sehat.

    (ADN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id