Terungkap, Ini Maksud Rancangan Anggaran Alusista Rp1.760 Triliun

    Fachri Audhia Hafiez - 12 Mei 2021 19:51 WIB
    Terungkap, Ini Maksud Rancangan Anggaran Alusista Rp1.760 Triliun
    Tank buatan Pindad yang ditampilkan di HUT ke-72 TNI. Foto: Medcom.id/Whisnu Mardiansyah



    Jakarta: Kementerian Pertahanan (Kemhan) meluruskan isu rancangan peraturan presiden (perpres) merumuskan pengeluaran alat utama sistem persenjataan (alutsista) hingga Rp1.760 triliun untuk periode 2020-2024. Anggaran fantastis itu tidak dihabiskan dalam jangka waktu itu.

    "Artinya kita ingin memaksimalkan belanja 25 tahun ke depan," ujar juru bicara Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak, dalam program Newsmaker Medcom.id bertajuk 'Jubir Prabowo Jawab Tudingan Mafia Alutsista Mister M', Rabu, 12 Mei 2021.

     



    Menurut dia, Kemhan tengah mendesain belanja modernisasi alutsista TNI yang konsisten setiap tahun. Kemhan mengajukan kepada Presiden Joko Widodo menggunakan perangkat hukum yang tersedia.

    Baca: Jubir Prabowo Minta Connie Ungkap Mafia Alutsista Mr M

    "Sehingga dalam jangka waktu lima tahun ke depan, kita punya alutsista yang ideal," ucap Dahnil.

    Modernisasi alutsista, kata Dahnil, akan terlihat lima tahun ke depan. Barang dari sistem pertahanan itu baru bisa didapatkan dalam jangka waktu tersebut, setelah kontrak ditandatangani.

    "Lima tahun ke depan paling cepat. Misalnya kapal selam, bahkan bisa tujuh-delapan tahun ke depan. Sama pesawat tempur juga bisa 50 bulan," terang Dahnil.

    Dahnil menuturkan awalnya Prabowo diminta Presiden Jokowi membuat masterplan soal sistem pertahanan negara untuk 25 tahun ke depan. Kepala Negara ingin Prabowo merancang alutsista yang ideal.

    "Kenapa Pak Jokowi minta ke Pak Prabowo seperti itu? Karena penting perkuat alutsista kita, pertahanan kita sampai 25 tahun ke depan," terang Staf Khusus bidang Komunikasi Publik dan Hubungan Antarlembaga Kemhan itu.

    Prabowo, kata Dahnil, berdiskusi dengan Jokowi dan kementerian terkait pembiayaan alutista. Kemudian, pihak terkait mengatur ulang skema atau mencari model pembiayaan untuk memodernisasi alutsista.

    Politikus Partai Gerindra itu mengatakan ada inkonsistensi program modernisasi alutsista dari masa ke masa. Program kerap terputus dan modernisasi alutsista terhambat.

    Dahnil menilai hal itu bisa dibereskan dengan konsistensi alokasi anggaran Kemhan, yakni 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB). Bahkan, angka itu diharapkan bisa ditingkatkan.

    "Jadi Pak Prabowo itu di rencana induknya adalah kita butuh konsistensi anggaran Kemhan 0,8 persen atau di atas 0,8 persen dari PDB untuk 25 tahun ke depan," ujar Dahnil.

    Dia menjabarkan dana Rp150 triliun per tahun dibagi 50 persen untuk belanja rutin Kemhan. Sisanya untuk belanja alutsista.

    "Selama ini kita habis untuk belanja rutin. Bahkan alutsista kalau diurutkan hanya 10 persen. Kecil sekali dan itu sekitar Rp9 triliun. Bisa apa kita? Kita ingin memaksimalkan belanja 25 tahun ke depan itu ditarik ke belakang," ucap Dahnil.

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id