PBNU: Sertifikasi Khatib Boleh Asal Tidak Mengekang

    Antara - 18 Februari 2020 23:26 WIB
    PBNU: Sertifikasi Khatib Boleh Asal Tidak Mengekang
    Salat Id di KBRI Beijing. (Dok. KBRI Beijing)
    Jakarta: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan sertifikasi terhadap khatib diperbolehkan asal tidak bersifat mengekang. Sertifikasi dapat menyaring khatib yang akan memberikan dakwah.

    "Mungkin sah-sah saja untuk kebutuhan pada level tertentu seseorang harus memiliki sertifikasi A, B, C, dan seterusnya, tetapi tidak bisa kalau sertifikasi itu dijadikan alat untuk membatasi atau mengekang dakwah," ujar Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU Saifullah Amin di Jakarta, Selasa, 18 Februari 2020.

    Menurut dia, tidak ada masalah pada wacana sertifikasi khatib. Apalagi, banyak penyiar ajaran Islam yang belum memiliki cukup kapasitas, tetapi telah berdakwah di masyarakat.

    "Terkadang ada beberapa pendakwah yang memang belum dalam kapasitasnya sudah melakukan dakwah pada level-level tertentu, yang mestinya dia belum di sana," ucap dia.

    Namun, Saifullah mengingatkan pemerintah agar tidak membatasi khatib dalam menyiarkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin di tengah masyarakat. "Pemerintah jangan sampai membatasi dakwah selama itu bisa membuat masyarakat tentram dengan nilai-nilai yang Islam yang rahmatan lil alamin," ujar dia.

    PBNU: Sertifikasi Khatib Boleh Asal Tidak Mengekang
    Suasana jemaah di Masjid Istiqlal pelaksanaa salat Iduladha 1440 Hijriah. Medcom.id/Ilham Wibowo

    Wakil Presiden Ma'ruf Amin sebelumnya mengatakan khatib harus bersertifikat dan memiliki komitmen kebangsaan. Karena posisinya sebagai penceramah akan berpengaruh pada cara berpikir, bersikap, dan bertindak dari umat Islam.

    "Khatib itu omongannya betul-betul harus membawa kemaslahatan. Makanya perlu ada sertifikasi khatib, yang bacaannya benar, komitmennya benar, diberi sertifikat. Nanti Ikatan Khatib DMI (Dewan Masjid Indonesia) mempertanggungjawabkan itu," jelas Ma'ruf Amin saat membuka Rakernas II dan Halaqah Khatib Indonesia di Istana Wapres Jakarta, Jumat, 14 Februari 2020.

    Menurut Ma'ruf, khatib harus memiliki pemahaman agama Islam yang benar, baik dari segi pelafazan maupun pemaknaan terhadap ayat-ayat Alquran. Sehingga umat Islam tidak menyalahartikan ceramah yang disampaikan para khatib.

    "Khatib harus memiliki kompetensi, pemahamannya tentang agama harus betul, harus lurus. Cara pengucapan, lafaznya, harus benar. Jadi harus diseleksi khatib itu, harus punya kompetensi," ujar dia.



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id