Berita Menarik Nasional Sepekan

    Korona Hingga Tabahnya Jokowi Menghadapi Musibah

    Medcom - 28 Maret 2020 18:04 WIB
    Korona Hingga Tabahnya Jokowi Menghadapi Musibah
    Presiden Joko Widodo mengikuti KTT Luar Biasa G20 secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat/Biro Pers Setpres
    Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) tetap bekerja di tengah duka. Sosok yang disebut kebanyakan orang sederhana itu terlihat kuat meski baru saja ditinggal ibunda tercinta.

    Orang nomor satu di negeri ini memilih tetap menjalankan tugas beberapa jam setelah turun ke liang lahat menguburkan Sudjiatmi Notomiharjo, Kamis, 26 Maret 2020. Malamnya, Presiden ke-7 Indonesia itu duduk manis di Istana Kepresidenan Bogor untuk mengikuti KTT Luar Biasa G20 secara virtual.

    Virus korona (covid-19) jadi bahasan penting dalam pertemuan pimpinan negara anggota G20 dan organisasi internasional, seperti PBB, WHO, Bank Dunia, dan IMF tersebut. Isu yang sama, masih dihadapi Indonesia hingga hari ini.

    Sebanyak 102 orang meninggal, sedangkan 1.155 positif terpapar virus yang mulanya ditemukan di Wuhan, Tiongkok, itu. Kabar gembiranya, 59 pasien dinyatakan sembuh.

    Berita yang beredar belakangan juga masih diwarnai korona. Mulai perkembangan kasus, hingga efeknya pada dunia perpolitikan Indonesia.

    Berikut lima berita nasional menarik sepekan:

    1. Kasus Positif Menyentuh Angka Seribu

    Jumlah pasien positif korona di Indonesia melonjak. Ada penambahan 109 kasus positif korona per pukul 12.00 WIB, Sabtu, 28 Maret 2020.
     
    "Sehingga total menjadi 1.155 kasus," ujar juru bicara pemerintah untuk penanggulangan virus korona, Achmad Yurianto dalam konferensi pers di Gedung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Sabtu, 28 Maret 2020.

    Selengkapnya baca di sini.

    2. Balada Mudik

    Korona Hingga Tabahnya Jokowi Menghadapi Musibah
    Ilustrasi/MI

    Mudik Idulfitri 2020 terancam tak bisa dilakukan. Pemerintah bisa saja menerbitkan larangan mudik demi memutus rantai penyebaran covid-19.

    Namun, saat ini, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan baru mengeluarkan imbauan tak mudik. Boleh tidaknya budaya yang tiap tahun dilaksanakan itu baru diputuskan Presiden bersama menteri, Senin, 30 Maret 2020.

    "Apakah nanti akan ditingkatkan statusnya (imbauan) menjadi pelarangan, menunggu keputusan dari rapat terbatas," kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi, kepada Medcom.id, Jumat, 27 Maret 2020.

    Selengkapnya baca di sini.

    3. Jokowi Tegar di Tengah Duka

    Korona Hingga Tabahnya Jokowi Menghadapi Musibah
    Jokowi turun ke liang lahat untuk menguburkan Ibunda/Biro Setpres

    Kepala Negara tetap mengikuti KTT Luar Biasa G20 secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis malam, 26 Maret 2020. KTT tersebut membahas upaya negara-negara anggota G20 menangani covid-19 (korona).

    Padahal, beberapa jam sebelumnya, ia masih berada di Solo untuk mengantar kepergian Sang Bunda ke pemakaman. Pembahasan soal covid-19 membuat Jokowi tegar berada di tengah konferensi virtual bersama pemimpin negara anggota G20 lainnya.

    "Dengan tujuan untuk membahas tidak saja penanganan krisis pandemik, tetapi juga dampak ekonomi dan sosial yang berpengaruh pada global supply-chain," kata Jokowi "melalui keterangan tertulis, Kamis, 26 Maret 2020.

    Selengkapnya baca di sini.

    4. Kumpul-kumpul Berujung Pidana

    Di tengah meluasnya wabah covid-19, polisi bakal menindak tegas mereka yang tak mengikuti imbauan physical distancing (menjaga jarak fisik). Kapolri Jenderal Idham Azis mengeluarkan maklumat tentang Kepatuhan terhadap Kebijakan Pemerintah dalam Penanganan Penyebaran Virus Korona. 

    "Barang siapa yang tidak mengindahkan petugas yang berwenang yang saat ini melaksanakan tugas dapat dipidana," tegas Kadiv Humas Polri, Irjen M Iqbal, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin, 23 Maret 2020.

    Selengkapnya baca di sini.

    5. Potong Gaji Legislator

    Wakil rakyat sudah seharusnya merelakan gaji bulanan mereka kembali ke rakyat. Usulan itu disoroti karena sebelumnya nama DPR tercoreng lantaran dianggap tak etis meminta tes massal covid-19, bukannya mendahulukan mereka yang benar-benar membutuhkan tes.

    Beberapa fraksi di DPR setuju, salah satunya Partai NasDem. Fraksi Partai NasDem DPR berikhtiar mendonasikan 50 persen gajinya untuk penanggulangan virus korona. Kepedulian itu terinspirasi Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh.
     
    "Yang bisa kita lakukan adalah  memfasilitasi perawat. Jadi kita berkontribusi pada sisi itu," kata Ketua Fraksi Partai NasDem Ahmad Ali kepada Medcom.id, Kamis, 26 Maret 2020.

    Selengkapnya baca di sini.



    (OJE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id