Abdul Kohar
    Abdul Kohar Direktur Pemberitaan Medcom.id

    Jurus Kungfu Boy

    Abdul Kohar - 16 September 2020 05:59 WIB
    Jurus <i>Kungfu Boy</i>
    Ilustrasi: Medcom.id

    Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi, seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan.

    Kini, banyak yang mulai khawatir, kita bakal masuk pintu pertama resesi. Setelah ekonomi tumbuh positif 2,9% di kuartal pertama, lalu tumbuh negatif 5,2% di kuartal kedua, banyak analis memprediksi pertumbuhan ekonomi kita bakal kembali negatif di kuartal ketiga yang hanya menyisakan dua pekan lagi. Mulai muncul pula imajinasi sejumlah orang jika resesi berlanjut, bakal muncul depresi ekonomi.

    Kolomnis Sidney J Harris membedakan istilah-istilah di atas dengan cara ini, “Sebuah resesi ialah ketika tetanggamu kehilangan pekerjaan, depresi ialah ketika kamu yang kehilangan pekerjaan.”

    Memang, tidak seperti Singapura yang mengandalkan perekonomian negerinya dari perdagangan dan ekspor, Indonesia boleh ‘bernapas lega’ karena geliat perekonomiannya ditopang sektor konsumsi. Angkanya cukup besar: 58%. Namun, kemampuan daya beli ada batasnya. Saat tabungan terus terkuras pada titik tertentu akan terjadi sesak napas.

    Belum lagi ditambah dengan postur tenaga kerja kita yang didominasi pekerja informal. Mereka yang setengah bekerja dan setengah menganggur ini, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS 2019), jumlahnya 72 juta orang dari total 126,5 juta pekerja di Indonesia. Para pekerja informal yang bekerja hari ini untuk makan hari ini tersebut punya dua risiko yang sama berat: terpapar (covid-19) atau terkapar.

    Itulah yang memunculkan dilema saban pemerintah memutuskan langkah mengatasi pandemi korona. Tidak mengherankan jika selalu muncul frasa ‘tetap injak rem atau mulai ngegas’ dalam sejumlah keputusan yang diambil. 

    Baca: Pelanggar Protokol Kesehatan Tak Akan Diampuni

    Merujuk pada tren penambahan kasus positif covid-19, tancap gas jelas bukan langkah yang bijak. Kebijakan menyeimbangkan rem dan gas, sama juga dengan menggenggam seratus jurus, tetapi setengah-setengah. Maka yang harus diprioritaskan ialah taklukkan dulu musuh utama secara fokus dan konsisten.

    Apa yang dikatakan Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Erick Thohir bahwa penanganan kesehatan harus diutamakan ketimbang ekonomi sudah tepat. Tinggal merapikan semua pasukan dalam orkestrasi yang sama dengan pernyataan Erick saat memberikan orasi ilmiah dalam Dies Natalis ke-63 Unpad, Jumat, 11 September 2020.

    Boleh jadi, dengan fokus tinggi dan konsistensi tiada henti, jurus Kungfu Peremuk Tulang bakal dikuasai.

    (OGI)
    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id