Nilai C Plus Berbalut Optimisme di 100 Hari Jokowi-Ma'ruf

    Githa Farahdina - 28 Januari 2020 08:24 WIB
    Nilai C Plus Berbalut Optimisme di 100 Hari Jokowi-Ma'ruf
    Presiden Joko Widodo dan jajarannya/ANT/Puspa P
    Jakarta: Evaluasi kinerja Joko Widodo-Ma'ruf Amin tetap menjadi pembahasan seksi, meski keduanya tak mematok target 100 hari pemerintahan. Waktu lebih dari tiga bulan itu cukup untuk melihat seberapa berjalannya program-program yang digadang-gadang semasa kampanye.

    Jajak pendapat menjadi salah satu cara media mengintip kepuasan publik di periode kedua Jokowi. News Research Center Media Group News mengorek suara tokoh publik di 34 provinsi.

    Kinerja Jokowi-Ma'ruf di 100 hari pertama ada di angka 6,84. "Dalam bahasa populernya, kira-kira nilainya C plus," kata Head of News Research Center Media Group News Ade Alawi, Selasa, 28 Januari 2020.

    Tapi, publik masih cukup optimistis. Respons 74,7 persen responden menunjukkan optimisme. Hanya 25,3 persen yang pesimistis.

    Angka C plus juga 'terhibur' dengan rapor kementerian. Setidaknya, empat kementerian meraih angka di atas 7.

    Kementerian Luar Negeri meraih angka 7,5. Kementerian Keuangan dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyusul dengan angka 7,35. Sedangkan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendapat angka 7,17.

    Di sisi lain, empat kementerian mendapat nilai 6. Kementerian Ketenagakerjaan mendapat nilai 6,35 sedangkan Kementerian Hukum dan HAM 6,28. Sementara Kementerian Agama 6,23 dan Kementerian Kelautan dan Perikanan mendapat nilai 6,07. 

    Jajak pendapat News Research Center Media Group News yang dilakukan 13-19 Januari 2020 melibatkan tokoh publik yang kerap menjadi pemimpin pembentuk opini di daerah. "Mereka yang sering diwawancarai atau dikutip namanya oleh media daerah," ujar dia.

    Mereka yang terlibat dipastikan tak terafiliasi dengan kelompok mana pun. Bukan aparatur sipil negara (ASN), kepala daerah, anggota parpol, maupun TNI/Polri. Pemilihan narasumber pun melalui verifikasi yang benar-benar independen.

    Menurut Kepala Litbang Media Indonesia Irwansyah, jajak pendapat menggunakan metodologi campuran kuantitatif dan kualitatif. "Dengan strategi desain concurrent triangulation," ujar dia.

    Irwansyah menjelaskan pendekatan campuran tak mengenal margin of error dan confiidence level yang biasa digunakan pendekatan kuantitatif murni. Terlebih, pendekatan kualitatif mengutamakan kualitas dan kedalaman, serta kekayaan data. 

    Tokoh publik diminta memberikan respons pesimistis atau optimistis atas pertanyaan-pertanyaan dalam instrumen penelitian. Penilaian menggunakan skoring 1-10. Rentang angka dikonversikan dalam 6 kelompok, yakni sangat pesimistis (1-2), pesimistis  (3-4), cenderung pesimistis (5), cenderung optimistis (6), optimistis (7-8), sampai sangat optimistis (9-10).

    Kata optimistis dan pesimistis sengaja digunakan karena menunjukkan harapan. News Research Center Media Group News sengaja tak menggunakan kata puas dan tidak puas yang sekadar berhenti pada penilaian. 

    "Dalam bahasa kerennya, optimistis-pesimistis memicu orang untuk move on, tidak berhenti pada tempat yang sama tanpa memberikan solusi," terang Irwansyah. 

    Jajak pendapat juga melibatkan Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan  dan Direktur Komunikasi Indonesia Indicator Rustika Herlambang. Mereka dimintai pendapat tentang jawaban terbuka responden tentang Panca Kerja Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf.



    (OJE)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id