comscore

Penjelasan Singapura Soal Penolakan UAS Berbuntut Panjang

Theofilus Ifan Sucipto - 22 Mei 2022 11:07 WIB
Penjelasan Singapura Soal Penolakan UAS Berbuntut Panjang
Pakar politik dan hubungan internasional Hikmahanto Juwana
Jakarta: Pakar politik dan hubungan internasional Hikmahanto Juwana mengatakan penjelasan Singapura soal penolakan Ustaz Abdul Somad (UAS) sudah cermat. Namun, langkah tersebut dinilai kurang bijak sehingga masalahnya melebar.

“Muncul kegaduhan di Indonesia dan semakin panjang akhirnya. (Padahal) kalau tidak dijelaskan, (masalahnya) berhenti sampai situ” kata Hikmahanto dalam diskusi virtual Crosscheck by Medcom.id bertajuk ‘UAS Ditolak Singapura, Jangan Jadi Gaduh di Indonesia,’ Minggu, 22 Mei 2022.
Hikmahanto mafhum pemerintah Indonesia berupaya menghormati kedaulatan keimigrasian Singapura. Namun pemerintah akhirnya mengirim nota pada Singapura untuk menanyakan alasan menolak UAS atas desakan di dalam negeri.

“Sekarang isunya mereka-mereka (masyarakat Indonesia) tidak puas. Tidak hanya sekadar mempermasalahkan sikap Singapura, tapi mempermasalahkan pemerintah kita juga,” ujar dia.

Baca: Pemerintah Tak Bisa Intervensi Penolakan UAS ke Singapura

Sebelumnya, UAS mengaku dideportasi dari Singapura. Ia tak tahu alasannya kenapa.  "Info bahwa saya dideportasi dari Singapura itu sahih, betul, bukan hoaks," ucap dia dalam Youtube hai guys official, Selasa, 17 Mei 2022.
 
UAS menjelaskan dirinya pergi ke Singapura bersama lima orang. Yakni, keluarga, sahabat, istri, dan anaknya. "Saya berangkat Senin siang dari Batam pada 16 Mei 2022, sampai di Pelabuhan Tanah Merah pukul 01.30 waktu Indonesia," terang dia.

Kementerian Dalam Negeri (MHA) Singapura mengonfirmasi menolak kedatangan UAS. Alasannya karena ia dinilai kerap menyebarkan ajaran ekstremisme.
 
"Somad dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi (atau pemisahan), yang tidak dapat diterima di masyarakat multi-ras dan multi-agama seperti Singapura," kata MHA dalam pernyataan tertulisnya, Selasa, 17 Mei 2022.
 
Misalnya, kata MHA, Somad mengatakan, bahwa bom bunuh diri adalah sah dalam konteks konflik Israel-Palestina, dan dianggap sebagai operasi 'syahid'.

(DEV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id