Hari Santri, Pimpinan MPR Kenang Resolusi Jihad Hasyim Asy'ari

    Yogi Bayu Aji - 22 Oktober 2021 16:25 WIB
    Hari Santri, Pimpinan MPR Kenang Resolusi Jihad Hasyim Asyari
    Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani mengunjungi Ponpes Tebuireng, Jombang, Jatim. Foto: Istimewa



    Jakarta: Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani mengenang resolusi jihad yang diserukan Rais Akbar Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari pada peringatan Hari Santri Nasional 2021. Fatwa jihad mempertahankan kemerdekaan yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 itu membakar semangat santri dan pejuang.

    "Peran santri dan kiai sangat berjasa ketika Belanda bersama Inggris berupaya merebut kemerdekaan Indonesia," kata Muzani dalam keterangan tertulis, Jumat, 22 Oktober 2021.

     



    Resolusi jihad Hasyim Asy'ari , kata Muzani, dipatuhi santri dalam puncak pertempuran Surabaya pada 10 November 2021. Kiai dan peran santri pun dianggap berperan besar sebagai tonggak utama penguat persatuan dan kesatuan di saat Indonesia baru merdeka. 

    "Peristiwa 10 November 1945 dalam pandangan Pak Prabowo (Ketua Umum Gerindra) adalah sebuah peristiwa yang penting bagi masa depan bangsa," jelas Sekretaris Jenderal Partai Gerindra itu.

    Menurut dia, semangat juang ini juga dibutuhkan sekarang. Dia mencontohkan dalam berpolitik, loyalitas, konsistensi, serta integritas dibutuhkan untuk memperjuangkan kehendak rakyat. 

    Baca: Santri Diminta Turut Mendorong Percepatan Vaksinasi Covid-19

    Pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin sepakat dengan pernyataan Muzani. Dia mendorong resolusi jihad yang didengungkan KH Hasyim Asy'ari terus disuarakan.

    "Sebab, hanya sedikit catatan mengenai soal sejarah itu, maka kita ingin angkat bahwa banyak sekali peran-peran KH Hasyim Asy'ari yang sebetulnya sangat mendasar dalam rangka pembentukan negara Indonesia," ungkap Gus Kikin. 

    Gus Kikin juga mengingatkan pesan Hasyim Asy'ari yang patut diketahui orang banyak. Hasyim Asy'ari menegaskan Islam sebagai ajaran agama yang menghargai perbedaan.

    "Salah satu pesan beliau, kalau perbedaan janganlah jadi sebab perpecahan. Perbedaan itu tidak prinsip dalam menjalankan agama. Banyak sekali pesan beliau yang kami terus gali, tetapi masih belum bisa sempurna karena minimnya literasi sejarah tentang itu," tutur Gus Kikin. 

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id