comscore

Kominfo: Masyarakat Harus Melek Media Digital

Achmad Zulfikar Fazli - 29 Maret 2022 14:41 WIB
Kominfo: Masyarakat Harus Melek Media Digital
Suasana dialog interaktif soal literasi media dan pembangunan demokrasi Indonesia. Dok. Istimewa
Jakarta: Generasi Z dan milenial sebagai penggerak literasi media di era digital. Masyarakat pun harus siap menerima literasi media.

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Wiryanta, mengatakan Literasi media tak ada manfaatnya jika yang mau menerima tidak siap. Menurut dia, peran organisasi seperti KOHATI dan PB HMI sangat penting untuk memberi contoh tentang kesiapan menerima literasi media.
“Jadi yang harus melek itu bukan individu saja, akan tetapi organisasinya harus melek terlebih dahulu,” ujar Wiryanta dalam kegiatan Dialog Interaktif 'Literasi Media dan Pembangunan Demokrasi Indonesia', Selasa, 29 Maret 2022.

Wiryanta membahas mengenai analog switch off yang menjadi salah satu program Kominfo. “Contohnya ASO, yang sejak lama pemerintah terus melakukan literasi tentang pemanfaatan penyiaran digital dan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengedukasi masyarakat berubah dari siaran analog ke siaran digital,” ujar Wiryanta.

Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika, Lathifa Al Anshori, mengatakan generasi Z dan milenial memiliki peran penting di era digital. Apalagi, generasi Z dan milenial sudah mengisi lebih dari 58 persen ruang digital di Indonesia.

Namun, ada tantangan bagi mereka di era digital. Tantangan pertama adalah disorientasi jika mendapatkan informasi yang salah akibat sering mengakses media sosial.

Tantangan kedua adalah mental health. Hal ini kerap disebabkan para pemuda tak mampu mengartikulasikan perasaan.

"Dan yang ketiga adalah merasa rendah diri karena tidak bisa mengikuti tren dan ini dipicu dari interaksi di media sosial,” ucap dia.

Baca: Literasi Digital Indonesia Masih Rendah, Perlu Dikenalkan Lewat Kurikulum Pendidikan

Lathifa memberikan cara untuk mengatasi tantangan bagi para pemuda dan pemudi di era digtal ini. Yang terpenting adalah bagaimana percaya diri dengan apa yang ada di dalam diri, jangan sampai terbawa dengan informasi menyesatkan yang beredar di media sosial.

“Jangan khawatir dalam menghadapi tantangan ini. Yang pertama, membentuk jaringan mental support, kita harus mendukung hal baik di media sosial," ujar dia.

Kedua, meningkatkan daya tawar atau leverage. Caranya, dengan mengakses informasi terpercaya dari sumber yang terpercaya.

"Yang ketiga, melawan hoaks dengan sadar, jangan melawan hoaks dengan hoaks, lawan dengan berita baik dan jangan lupa semangat yang tinggi dari anak muda harus disertai dengan kesabaran,” jelas Lathifa.

Salah satu cara melawan hoaks adalah dengan memilih siaran yang sehat. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bertanggung jawab untuk mewujudkan penyiaran yang sehat.

“Tayangan yang sifatnya ekploitatif harus dihindari di dalam tayangan penyiaran kita. Hindari pula yang dapat menjadi pemicu tindakan diskriminatif di tengah masyarakat,” kata Komisioner KPI Nuning Rodiyah

Mengingat genre hiburan masih menjadi daya tarik utama masyarkat, KPI terus mengajak untuk terus memasukan pesan-pesan positif dalam tayangan tersebut. “Dengan demikian, dapat menimbulkan kesadaran di masyarakat,” ujar dia.

(AZF)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id