Kominfo: Pandemi Covid-19 Picu Kenaikan Pengguna Medsos

    Siti Yona Hukmana - 05 Desember 2020 06:17 WIB
    Kominfo: Pandemi Covid-19 Picu Kenaikan Pengguna Medsos
    Ilustrasi pengguna media sosial. Medcom.id/M Rizal
    Jakarta: Pandemi covid-19 memicu kenaikan pengguna media sosial (medsos) di Indonesia. Sebab, warga lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah guna menekan penularan covid-19.

    Berdasarkan riset Badan Pusat Statitik (BPS), 83,6 persen masyarakat menjadikan medsos sebagai sumber utama informasi tentang pandemi covid-19. Artinya, masyarakat merujuk ke medsos yang dianggap sebagai sumber informasi paling cepat.

    "Karena medsos itu informasinya sangat cepat. Siang ini ada masalah siang ini langsung ada beritanya. Itu yang menyebabkan medsos itu sangat seksi," kata Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Henri Subiakto, dalam acara Konvensi Nasional Humas (KNH) 2020 secara daring, Jumat, 4 Desember 2020.

    Henri menganggap alasan mayoritas masyarakat tersebut tak jadi soal. Masalahnya, hoaks dan infodemik justru paling banyak ditemukan di medsos.

    Sejak Februari hingga Oktober 2020, Kominfo menerima 2.030 permintaan take down atau penurunan konten hoaks terkait covid-19 di media sosial. Rinciannya, 1.507 konten di Facebook, 482 konten di Twitter, dan 21 konten di YouTube.

    "Sudah kita tindaklanjuti 1.768, dan 262 sedang proses," beber Henri.

    Baca: Jangan Mudah Percaya Kabar Burung di Media Sosial

    Henri mengatakan hoaks sangat berbahaya bagi warga. Menurut psikolog, manusia perlu menerima lima informasi baik untuk menetralisir satu informasi hoaks yang telah masuk ke dalam pemikiran.

    "Hal negatif lebih menancap dan diingat daripada prestasi," ujar Henri.

    Hoaks mudah dipercaya karena diproduksi dan disebarkan di setiap kesempatan. Lalu, menyasar orang yang cenderung membaca dan menyimpulkan secara cepat.

    Hoaks mudah tersebar di antara teman yang mempunyai kepercayaan yang sama. Berita bohong juga memanfaatkan orang yang tidak berpikir kritis terhadap informasi yang membangkitkan emosi.

    Warga juga mudah percaya terhadap informasi berulang dari berbagai sumber. "Adanya tokoh-tokoh yang mendukung hoaks serta hoaks tersebar dan terpelihara oleh segregasi digital," tutur Henri.

    Hoaks dinilai dapat diatasi dengan peran humas dan media. Humas di kementerian/lembaga dan media harus dapat menjelaskan kondisi covid-19 yang objektif. 

    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id