Sengkarut Alutsista karena Mafia Berinisial M

    Fachri Audhia Hafiez - 25 April 2021 13:43 WIB
    Sengkarut Alutsista karena Mafia Berinisial M
    Ilustrasi prajurit TNI. Foto: MI/Ferdinandus Rabu



    Jakarta: Munculnya mafia bisnis dalam sistem pertahanan nasional makin memperburuk persoalan alat utama sistem pertahanan (alutsista) TNI. Ada sosok yang dinilai berpengaruh terhadap pengadaan sistem persenjataan prajurit tersebut.

    "(Disebut) Mr M saja," kata pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie dalam program Crosscheck #FromHome by Medcom.id bertajuk 'Mengungkap Sebab Malapetaka KRI Nanggala', Minggu, 25 April 2021.

     



    Connie tak menerangkan lebih jauh mengenai sosok yang dimaksud. Namun, dia membeberkan sengkarut alutsista yang ditemui.

    Salah satunya terkait proyek kendaraan taktis (rantis) Maung yang digagas Kementerian Pertahanan (Kemhan). Connie heran di mana keberadaan komponen lain dari kendaraan dengan mesin dan sasis Toyota Hilux itu.

    Baca: Beroperasi di Usia 42 Tahun, Maintenance KRI Nanggala-402 Dipertanyakan

    "Beli Hilux itu utuh, dia (Kemhan) ambil hanya sasis. Kemudian yang lainnya dijual kembali. Padahal yang di-charge itu harga satu mobil itu," bener Connie.

    Selain itu, dia menyinggung mengenai kerja sama pembuatan jet tempur Indonesia-Korea bertajuk Korean Fighter Xperiment (KFX) dan Indonesia Fighter Xperiment (IFX). Kerja sama tersebut menemui jalan buntu.

    Connie mengaku sejak awal lantang menolak kerja sama itu. Dia menilai banyak hal yang tidak masuk akal dalam kerja sama sistem pertahanan itu.

    "Anehnya belum apa-apa sudah belanja-belanja, PT Dirgantara Indonesia (DI) disiapkan. Sekarang kemungkinan itu enggak jadi. Kita akan rugi lebih besar gitu lo," ujar Connie.

    Anggota Komisi I DPR M Farhan mengungkapkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menolak melanjutkan kerja sama KFX-IFX. PT DI sedianya sudah menyetor US$250 juta.

    Menurut Farhan, Indonesia sudah punya komitmen US$2 miliar untuk pengembangan proyek tersebut. Namun, kerja sama yang mentok itu membuat Indonesia kena denda US$450 juta.

    "Jadi suatu pertanyaan adalah apakah memang ketika penandatanganan KFX-IFX ini tidak mempertimbangkan sustainability. Apakah menjadi bagian sebuah sistem terintegrasi dalam membangun alutsista? Itu kan pertanyaan yang sampai sekarang enggak berani dijawab," jelas Farhan.

    Politikus Partai NasDem ini menuturkan sisa dari anggaran tersebut atau sekitar US$1,3 miliar akan dibelikan pesawat sudah jadi oleh Kemhan. Namun, Komisi I tidak pernah menerima informasi uang tersebut akan dibelanjakan secara terukur sesuai roadmap alutsista.

    "Tapi kita tidak pernah diberikan secara gamblang apakah memang US$1,3 miliar ini akan dibelanjakan pada sebuah alutsista yang fit into roadmap itu," kata Farhan.

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id