Luhut Minta Kepala Daerah Selalu Siaga dan Antisipasi Gempa Megathrust

    Cindy - 04 Maret 2021 12:57 WIB
    Luhut Minta Kepala Daerah Selalu Siaga dan Antisipasi Gempa <i>Megathrust</i>
    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan. Antara/Puspa Perwitasari



    Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan meminta seluruh kepala daerah siaga dan mengantisipasi potensi gempa yang terjadi pada 2021. Terutama di sembilan wilayah rawan gempa megathrust.

    "Kita takut pada megathrust, kita duga itu akan terjadi, kapan dan bagaimana kita tidak tahu. Jadi kita semua harus siap menghadapi semua itu," kata Luhut dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana 2021 yang digelar daring, Kamis, 4 Maret 2021.  






    Daerah rawan gempa megathrust tersebut ialah Kepulauan Mentawai, Lampung, Selat Sunda, Banten, Selatan Bali. Kemudian, Sulawesi Utara, Laut Maluku, Utara Papua dan Laut Banda. Data tersebut ia dapat dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

    Dia menegaskan gempa tidak dapat diprediksi meski dengan alat secanggih apa pun. Sehingga, pelatihan evakuasi bencana sebagai bentuk mitigasi harus terus dilaksanakan setiap tahun.  

    "Bisa saja bencana 10, 20, 30 tahun lagi bisa terjadi, kapan saja bisa terjadi. Di daerah masing-masing perlu bikin gladi sendiri untuk tahu siapa melakukan apa," ujar dia.

    Baca: Indonesia Dilanda 3.253 Bencana Alam dalam Setahun

    Luhut meminta pemerintah daerah memperkuat sistem mitigasi gempa bumi dan tsunami di Indonesia. Misalnya, mengimplementasikan Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2019 tentang Penguatan dan Pengembangan Sistem Informasi Gempa Bumi dan Peringan Dini Tsunami.

    "Saya mohon teman-teman para pimpinan daerah, gubernur, bupati, wali kota, sampai kepada yang terbawah, tolong dilihat Perpres ini. Karena saya ingat konteks penyusunan perpres karena pengalaman-pengalaman kita selama ini," ungkap dia.

    Luhut mengakui kelemahan paling besar yang terjadi di pemerintahan Indonesia adalah koordinasi. Dia mendorong pemerintah daerah bersama kementerian dan lembaga berkolaborasi mengantisipasi bencana alam.  

    "Kita tidak holistik menyelesaikan masalah, terlalu banyak segmentasi. Jangan ada ego sektoral anda paling berkuasa, kalau tanpa bantuan kementerian lembaga lain anda tidak sempurna. Kita harus betul betul berkolaborasi," tutur Luhut.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total 2.736 bencana terjadi pada 2020. Sebanyak 986 bencana banjir, 817 puting beliung, 527 tanah longsor, 325 kebaharan hutan.

    Baca: Jokowi: Mitigasi Kunci Kurangi Risiko Bencana

    Kemudian, 29 gelombang pasang dan abrasi, 29 kekeringan, 15 gempa bumi, tujuh erupsi gunung api dan bencana pandemi covid-19. Dampaknya, 5,8 juta orang menderita dan mengungsi, 519 korban luka, 349 korban jiwa, dan 39 orang hilang.

    Kepala BNPB Doni Monardo menyebut Indonesia dilanda 3.253 bencana alam dalam kurun waktu Februari 2020 hingga Februari 2021. Bencana yang dihadapi meliputi gempa, tsunami, erupsi, gunung berapi, banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.
     
    "Artinya setiap hari ada sembilan kali kejadian bencana kami hadapi," kata Doni dalam Rapat Koordinasi Nasional BNPB di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu, 3 Maret 2021.

    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id