Prabowo Berpeluang Jadi Menteri Bila Gabung Pemerintah

    Cindy - 19 Oktober 2019 16:34 WIB
    Prabowo Berpeluang Jadi Menteri Bila Gabung Pemerintah
    Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari (kedua dari kanan). Foto: Medcom.id/Cindy
    Jakarta: Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menyebut Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berpeluang menjadi menteri. Hal itu bisa terjadi apabila Gerindra masuk koalisi pemerintah. 

    "Dari Partai Gerindra ada Prabowo dan (Wakil Ketua Umum Partai Gerindra) Edhy Prabowo," kata Qodari di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, Sabtu, 19 Oktober 2019. 

    Menurut dia, peluang ini muncul lantaran Prabowo dekat dengan Presiden Joko Widodo. Prabowo dinilai ingin masuk pemerintah agar dapat mengeksekusi ide dan gagasannya terkait pertahanan negara. 

    "Tentara itu kan tataran teknis dan sekarang (Prabowo ingin) di tataran kebijakan. Jadi sepertinya Pak Prabowo tangannya sudah gatal untuk mengeksekusi," ucap Qodari. 

    Selain ide tentang pertahanan, kata dia, Prabowo juga ingin membuktikan gagasannya terkait kedaulatan pangan, ketahanan, dan energi. Hal itu juga telah dibicarakan Prabowo saat bertemu dengan Jokowi di Istana beberapa waktu lalu. 

    Dia menilai keinginan Prabowo untuk masuk dalam pemerintahan sudah terjadi sejak 2004. Hal itu membuat Prabowo terlihat tak sabar masuk koalisi. 

    Sementara itu, Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria menegaskan sikap politiknya tetap menjadi oposisi. Hal itu sudah ditekankan Prabowo berulang kali saat pertemuan dengan Presiden Jokowi. 

    "Prabowo menyampaikan Partai Gerindra siap membantu pemerintah bila diperlukan. Kami siap di luar sebagai partai penyeimbang  checks and balances," kata Riza.

    Menurut dia, sebagai partai oposisi, Gerindra tidak berhak meminta kursi menteri. Namun, bila diminta duduk di kabinet, pihaknya siap menyodorkan kader terbaik.

    Di sisi lain, pada pertemuan sebelumnya dengan Jokowi, pihaknya tak pernah membicarakan kursi di kabinet. Pertemuan di MRT Lebak Bulus, kata dia, untuk menetralisasi polarisasi yang terjadi di masyarakat. 

    Sementara itu, pertemuan di Istana, Prabowo dan Jokowi hanya bertukar pikiran untuk kepentingan bangsa. Keduanya membahas isu pertumbuhan ekonomi, kedaulatan pangan, perkuatan keamanan negara, energi, dan memperkuat pemerintahan. 

    "Konsep dan gagasan dari Gerindra dielaborasi untuk bagaimana Indonesia maju. Mau dipakai boleh, enggak juga boleh. Jadi enggak ada bicara jumlahnya berapa posisi dimana," imbuh Riza.