comscore

Presiden Sebut Saat Ini Zamannya Asia

Antara - 28 Mei 2022 02:56 WIB
Presiden Sebut Saat Ini Zamannya Asia
Presiden Joko Widodo/Biro Pers Sekretariat Presiden.
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan saat ini merupakan abad Asia. Yakni di mana eksistensi negara-negara di Asia bukan hanya berkontribusi bagi Asia semata, melainkan  bagi dunia.

"Kita meyakini bahwa abad sekarang ini adalah abad Asia. Asia bukan hanya untuk Asia, tapi Asia untuk dunia, apalagi di tengah dunia yang sedang terbelah," ujar Presiden dalam sambutannya secara daring pada acara The Future of Asia Conference, Jumat malam, 27 Mei 2022.
Presiden mengatakan kawasan Asia perlu terus berperan sebagai katalisator dan mesin bagi stabilitas, perdamaian, dan kemakmuran global. Menurut Jokowi, banyak tantangan global yang dihadapi.

Upaya pemulihan ekonomi akibat pandemi covid-19 masih belum merata. Selain itu ancaman gelombang varian baru covid-19 masih harus diantisipasi.

"Semua ini semakin diperparah kembali oleh terjadinya konflik Rusia-Ukraina yang membawa babak baru dalam konstelasi geopolitis," ucap mantan Wali Kota Solo itu.

Jokowi menerangkan politik global mengalami peningkatan ketegangan, rantai pasok perdagangan dunia terganggu, kelangkaan, kenaikan harga barang, dan kemunduran ekonomi global tidak terhindarkan. Selain itu pertumbuhan GDP global mengalami penurunan dari 3,8 persen menjadi 2,6 persen pada tahun 2022.

"Setidaknya 38 negara berpenghasilan rendah telah mencapai status berisiko tinggi untuk beban utang luar negeri mereka. Pencapaian SDG's semakin tertunda dan 150 juta penduduk dunia kembali terjerumus ke dalam kemiskinan ekstrem, dan lebih dari 160 juta orang di dunia kembali kelaparan," ungkap dia.

Baca: Penanganan Pandemi Covid-19 Kerek Kepuasan Masyarakat atas Jokowi

Presiden menyampaikan meski ekonomi Asia melambung 6,9 persen tahun lalu, tapi pemulihan ekonomi belum terjadi pada kawasan yang luas. Presiden menyampaikan, Asian Development Bank (ADB) telah memperkirakan GDP Asia akan meningkat menjadi 5,2 persen pada 2022 dan menjadi 5,3 persen pada 2023 dengan kenaikan inflasi 3,7 persen tahun ini dan 3,1 persen pada tahun 2023.

Sementara di kawasan Asean, angka kemiskinan mencapai 4,7 juta jiwa. Kemudian lebih dari 9,3 juta jiwa kehilangan pekerjaan.

"Oleh karena itu, kita harus melakukan percepatan pemulihan ekonomi. Perlu investasi di sektor kesehatan nasional. Perlu investasi SDM, guna meningkatkan produktivitas dan daya saing. Perlu penguatan fundamental makro ekonomi dan memanfaatkan peluang ekonomi hijau," jelas Presiden.

(LDS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id