comscore

Tak Cepat Mendamaikan Rusia-Ukraina, PBB Sebaiknya Diganti Gerakan Non Blok

Anggi Tondi Martaon - 29 Mei 2022 11:44 WIB
Tak Cepat Mendamaikan Rusia-Ukraina, PBB Sebaiknya Diganti Gerakan Non Blok
Pakar pertahanan dan militer Connie Rahakundini dalam Crosscheck Medcom.id, Minggu, 29 Mei 2022.
Jakarta: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dinilai tak berbuat banyak dalam menghentikan perang Rusia-Ukraina. Eksistensi organisasi beranggotakan 193 negara itu dinilai kalah dengan Non-Aligned Movement (NAM) atau Gerakan Non-Blok dalam mewujudkan perdamaian.

"Kalau tidak (berupaya menghentikan perang Rusia dan Ukraina) apakah PBB itu sebaiknya digantikan dengan Gerakan Non-Blok," kata pakar pertahanan dan militer Connie Rahakundini dalam program Crosscheck Medcom.id bertemakan Suara Pembubaran PBB Muncul di Indonesia, Minggu, 29 Mei 2022.
Dia menyampaikan PBB terlihat pasif dalam menyikapi perang di Ukraina. Namun, sejumlah negara anggota PBB justru aktif memberikan sanksi kepada Rusia.

Seperti yang dilakukan Amerika Serikat. Negeri Paman Sam itu disebut mengisolasi Rusia dengan memberikan sanksi pada sektor ekonomi.

"Yang paling parah semua pintu dialog ditutup. dubes (duta besar) diusir, diplomat dikucilkan. sehingga saya bertanya lalu siapa yang mau mendamaikan Rusia-Ukraina ini," ungkap dia.

Baca: Peran PBB Menyelesaikan Perang Rusia dan Ukraina Dipertanyakan

Hal berbeda justru dilakukan Gerakan Non-Blok. Organisasi yang lahir dari Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika terbukti mampu menghentikan perang di sejumlah belahan dunia.

Gerakan Non-Blok juga berhasil menyelesaikan apartheid di Afrika Selatan. Apartheid adalah sistem pemisahan ras kulit putih dan hitam.

"Itu dihapuskan dengan gerakan NAM," ujar dia.

Dirangkum dari berbagai sumber, Gerakan Non-Blok berawal dari Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat, pada 1955. Sebanyak 29 negara mendeklarasikan tidak terlibat dalam konfrontasi ideologi Barat-Timur.

Gerakan Non-Blok didirikan lima pemimpin negara. Kelimanya, Presiden Indonesia Soekarno, Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito, Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Perdana Menteri India Pandit Jawaharal Nehru, dan Presiden Ghana Kwame Nkrumah.

(AGA)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id