MAGHRIB 17:47

    Untuk Jakarta dan sekitarnya

    IMSAK 04:25
    SUBUH 04:35
    DZUHUR 11:53
    ASHAR 15:14
    ISYA 18:59

    Download Jadwal Imsakiyah

    Masyarakat masih Rasional Memilih Kepala Daerah

    Kautsar Widya Prabowo - 15 Juli 2018 18:37 WIB
    Masyarakat masih Rasional Memilih Kepala Daerah
    Ilustrasi.
    Jakarta: Masyarakat dinilai masih rasional dalam memilih kepala daerah di sejumlah Pilkada. Mayoritas masyarakat memilih berdasarkan kinerja dan program yang ditawarkan, bukan berdasarkan kesamaan agama, suku, maupun partisipan partai tertentu.
     
    Hal itu diungkapkan salah satu penulis buku Voting Behavior in Indonesia Since Democratization, Kuskridho Ambardi, saat peluncuran buku di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat.
     
    Pria yang akrab disapa Dhodi itu mengatakan, masyarakat memilih calon pemimpin yang dirasa memberikan keuntungan lebih, baik dari program atau hal yang lain.
     
    "Ada sejumlah pemilih besar yang rasional. Mereka meminta yang sesuatu yang rasional, kokret. Kadang tuntutan masyarakat yang rasional ini yang belum bisa dijawab para politikus," ujar Dhodi di Perpustakaan Nasional, Minggu, 15 Juli 2018.
     
    Ia menambahkan, para elite politik sebenarnya dapat dengan mudah meraih suara asal program yang disampaikan rasional dan dapat dirasakan langsung masyarakat. Hal itu terlihat dari pemilihan umum 1999 hingga 2018.
     
    "Anda juga bisa menang kalau anda rasional, menimbang sisi ekonomi, terlepas dari siapa yang menjadi kepala daerah dan dari partai mana mereka berasal," katanya.
     
    Politik Uang
     
    Psikolog Politik Hamdi Muluk menilai fenomena pemilih yang mudah dirayu dengan uang merupakan bagian dari pemilih rasional.
     
    "Uang itu sebagian dari rasionalitas, daripada memegang program yang tidak jelas, kandidat juga tidak memimpin," kata Hamdi.

    Baca: Belum Menjadi Pemilih Cerdas
    Hamdi mengatakan, manusia adalah mahluk yang sangat memperhitungkan untung dan rugi dalam setiap keputusan. Sehingga selama program - program yang disampaikan dirasa tidak rasional, maka tidak menutup kemungkinan masyarakat akan memilih pemimpin yang berduit.
     
    "Pemimpin yang ada uangnya akan dia pilih, terlepas dari persoalan moral yang tentunya tidak baik," ujar Hamdi.
     
    Jika masyarakat memilih berdasarkan uang yang diterima, maka ini menjadi masalah bagi partai yang memperlihatkan bahwa program kerja yang disampaikan calon yang diusungnya tidak rasional.
     
    Hamdi tidak heran ada fenomena kota kosong yang menang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat menganggap program yang ditawarkan calon itu tidak rasional. "Kemenangan kotak kosong artinya tidak ada yang baik," katanya.
     



    (FZN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id