Rencana Pemulangan Eks ISIS Perlu Dikaji Ulang

    Cahya Mulyana - 03 Februari 2020 17:26 WIB
    Rencana Pemulangan Eks ISIS Perlu Dikaji Ulang
    Wakil Ketua Baleg Willy Aditya. Foto: Medcom.id/Arga Sumantri
    Jakarta: Anggota Komisi I DPR Fraksi Partai NasDem Willy Aditya meminta wacana pemulangan eks kombatan ISIS kembali ke Indonesia perlu dikaji ulang. Ada faktor keamanan yang lebih penting dari sekadar faktor kemanusiaan. 

    “Dalih kemanusiaan untuk memulangkan eks-ISIS harus benar-benar diimbangi dengan kepentingan pertahanan dan perlindungan warga negara yang lebih luas. Enggak bisa kita korbankan lebih banyak warga Indonesia demi mendapat label kemanusiaan dari 600 eks-ISIS,” kata Willy kepada Media Indonesia, Senin, 3 Februari 2020.

    Pemerintah perlu mempertimbangkan dengan matang, terlebih mereka tergabung dengan kelompok yang dicap sebagai jaringan teroris global. Kata Willy, jangan sampai Indonesia justru dianggap sebagai negara penampung teroris. 

    Ditambah, terang Willy, 600 orang itu mendeklarasikan diri bukan lagi Warga Negara Indonesia (WNI) dengan membakar paspor. Tidak ada kewajiban dan tanggung jawab lagi bagi pemerintah memulangkan mereka.

    “Kita tidak menganut dwi kewarganegaraan. Jadi kalau mantan ISIS itu sudah membakar paspor Indonesianya, mereka adalah para pencari suaka. Perlakukan mereka selayaknya pencari suaka,” tegasnya.

    Pemerintah perlu menyeleksi siapa yang layak diberikan suaka, dipulangkan karena masih berpaspor Indonesia, dan yang harus ditolak masuk ke Indonesia.

    Mereka pun tidak serta merta bisa langsung berbaur dengan masyarakat. Dan wajib mengikuti program deradikalisasi.

    “Kita cukup paham bahwa konsep program deradikalisasi yang lalu belum cukup memperlihatkan hasilnya. Teror ala ISIS adalah violent extremism, maka paham itulah yang harus dikeluarkan dari pikiran para mantan ISIS,” katanya.

    Willy menambahkan eks ISIS ini tak ubahnya seperti virus corona yang bisa menyebarkan paham mereka ke masyarakat. Perlu kehati-hatian khusus dan persiapan yang matang. 

    “Karena itu upaya untuk mengikis dan menghilangkan paham atau dukungan terhadap violent extremism dari mereka yang datang ke Indonesia benar-benar harus holistik. Jangan kita membahayakan 230 Juta orang Indonesia demi 600 orang yang tega menanggalkan ke-Indonesiaannya,” pungkasnya. 



    (WHS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id