comscore

Panglima TNI: Keturunan PKI Jangan Jadi Alasan Gagalkan Calon Prajurit

Antara - 31 Maret 2022 06:05 WIB
Panglima TNI: Keturunan PKI Jangan Jadi Alasan Gagalkan Calon Prajurit
Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. Foto: Medcom/Yona
Jakarta: Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa mengingatkan jajarannya keturunan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) tidak boleh dijadikan alasan untuk menggagalkan calon prajurit dalam proses seleksi. Panitia seleksi tidak punya dasar hukum untuk menggagalkan calon prajurit karena alasan keturunan PKI.

“Yang dilarang itu PKI, yang kedua ajaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme. Itu yang tertulis,” kata Andika menyampaikan isi Ketetapan (TAP) MPRS XXV/1966 sebagaimana disiarkan kanal YouTube Jenderal Andika Perkasa di Jakarta, Rabu, 20 Maret 2022.
Andika meminta jajaran panitia seleksi penerimaan Prajurit TNI 2022 menghapus pertanyaan yang menanyakan hubungan kekerabatan calon prajurit dengan PKI. “Jangan kita mengada-ada. Saya orang yang patuh peraturan perundang-undangan. Ingat ini. Kita melarang pastikan kita punya dasar hukum,” kata Andika.

Dia memerintahkan panitia seleksi untuk tidak membuat aturan dan larangan yang tidak ada dasar hukumnya. Termasuk, terkait hubungan kekerabatan calon prajurit dengan PKI dan organisasi sayap (underbow) PKI.

“Zaman saya tidak ada lagi (larangan terkait) keturunan. Tidak, karena saya menggunakan dasar hukum,” tegas Andika.

Baca: Panglima TNI Siap Tugaskan Prajurit di Satgas Sinergitas BNPT

Dalam Rapat Koordinasi Penerimaan Prajurit TNI 2022 di Jakarta, Andika menerima laporan dari jajarannya mengenai proses seleksi, termasuk tahapan, mekanisme, metode seleksi, dan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada peserta saat mereka menjalani tes ideologi.

Andika memerintahkan panitia seleksi tidak lagi memasukkan pemeriksaan postur tubuh dalam tahapan tes kesamaptaan. Sebab, tahapan itu telah ada di pemeriksaan kesehatan.

“Yang pemeriksaan postur tubuh bukannya sudah ada di kesehatan? Kita jangan menduplikasi padahal kita bukan orang kesehatan,” kata dia.

Dengan begitu, tes kesamaptaan tidak perlu lagi memasukkan pemeriksaan postur tubuh dan ujian renang. Sebab, tidak semua calon prajurit memiliki akses ke kolam renang atau tempat untuk belajar berenang.

“Tidak fair (jika ada ujian berenang),” ujar Andika.

Kemudian, Panglima menginstruksikan panitia seleksi mengambil skor akademik dari transkrip nilai ijazah calon prajurit. Sehingga, tes akademik pun dihapus dari tahapan seleksi.

“Menurut saya tes akademik ini tinggal ambil saja IPK (indeks prestasi kumulatif) dan transkripnya, karena bagi saya yang lebih penting ijazahnya saja. Tidak usah lagi ada tes akademik,” kata dia.

Di penghujung rapat, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu memerintahkan jajarannya untuk memperbaiki mekanisme seleksi sebagaimana instruksi yang telah diberikan. Berbagai perbaikan dan perubahan itu, menurut dia, merupakan cara menjadikan tahapan seleksi Prajurit TNI 2022 berjalan lebih efektif, efisien, dan berkeadilan.

(AZF)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id