PKS Khawatir Amendemen Terbatas Ditunggangi 'Penumpang Gelap'

    Arga sumantri - 14 Agustus 2019 16:01 WIB
    PKS Khawatir Amendemen Terbatas Ditunggangi 'Penumpang Gelap'
    Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera. (Foto: MI/Rommy Pujianto)
    Jakarta: Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera menyarankan rencana amendemen terbatas Undang-Undang Dasar 1945 dikaji ulang. Ia khawatir niat mengubah Undang-undang secara terbatas justru berujung melebar.

    "Sebelum menyiapkan mitigasinya, sebaiknya pikir ulang tentang amendemen," kata Mardani di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu, 14 Agustus 2019. 

    Mardani mengatakan hasil sejumlah diskusi yang berlangsung, rencana amendemen seperti membuka kotak pandora. Ia khawatir ketika kotak pandora itu terbuka, justru masuk banyak ide dari 'penumpang gelap'. 

    "Ketika kotak pandora ini dibuka maka keluarlah semua evil (setan), semua penumpang gelap, semua ide-ide yang uncontrolable," ucap dia. 

    Menurut dia, kondisi politik saat ini tidak kondusif sebab kekuatan oposisi atau kekuatan penyeimbang pemerintahan tidak kuat. Dengan begitu, amendemen berpotensi disusupi kepentingan yang bertentangan dengan landasan bernegara.

    Baca juga: GBHN Tak Boleh Bertentangan dengan Sistem Presidensial

    "Kemungkinan ada pasal-pasal yang dalam tanda kutip bertentangan dengan niat founding fathers kita, niat dan semangat reformasi," ujarnya. 

    Mardani menegaskan semangat reformasi menyepakati membatasi kekuasaan presiden hanya dua periode. Ia mengatakan bila wacana amendemen dibuka bakal berimbas pula terkait masa jabatan presiden.

    "Belum tentu ada kepastian bahwa itu bisa dikunci di dua periode," ujarnya. 

    Menurut dia, mengusulkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) pasti terkait dengan posisi MPR sebagai lembaga tertinggi. Ketika MPR menjadi lembaga tertinggi, maka paradigmanya akan bertentangan dengan kedaulatan rakyat melalui pemilu langsung. Terlebih, pernah mencuat pula wacana masa jabatan presiden menjadi delapan tahun dalam satu periode.

    "Boleh jadi (amendemen) itu pembukanya, kartu berikutnya lain lagi, dengan posisi parlemen yang gambarannya bisa jadi menyisakan satu atau dua oposisi, menurut saya tidak ideal," ungkapnya.



    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id