comscore

Pilot Ini Ceritakan Kendala saat Mengantar BTS ke Pedalaman Papua

Yakub Pryatama Wijayaatmaja - 24 April 2022 03:14 WIB
Pilot Ini Ceritakan Kendala saat Mengantar BTS ke Pedalaman Papua
Ilustrasi. Kegiatan operasional bandara Aminggaru, Kabupaten Puncak Papua saat normal. (ANTARA/HO/UPBU Ilaga)
Jakarta: Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terus bergerak dengan membangun base transceiver station (BTS) 4G di pelbagai wilayah Papua. Namun ada kendala yang kerap dihadapi, salah satunya dialami pilot pesawat yang bertugas mengantar material BTS.

“Kendala yang kami hadapi ini kan di Papua dengan kontur pegunungan, apalagi Papua ini termasuk 3 area penerbangan berbahaya di dunia,” ujar pilot pesawat karavan, Roli Azfriansyah, dalam keterangannya, Sabtu, 23 April 2022.
Dia menyebut keterbatasan di Papua ialah tidak adanya air traffic control. Sehingga dirinya dan kru pesawat pembawa material BTS 4G ke pedalaman Papua tak bisa mengecek kondisi cuaca yang valid dari BMKG.

"Jadi kami ketergantungan pada masyarakat untuk mengetahui kondisi cuaca saat ini," ungkap dia.

Baca: Menkominfo Dorong BAKTI Kominfo Lebih Inovatif dan Produktif

Kemudian, alat navigasi yang berada di bandara dirasa sangat kurang. Sehingga pihaknya betul-betul hanya tergantung dengan cuaca.

"Jadi kalau cuaca mendung kita tunggu dulu. Kalau di pegunungan tensinya itu siang berkabut angin. Kalau pagi kemungkinan bagus tapi tunggu info dulu karena di sini rada berawan," papar dia.

Roli ialah salah satu pilot yang mengantarkan material BTS 4G milik BAKTI Kominfo yang biasa terbang dari Bandara Senggeh, Kerom, Papua. Dari Bandara Senggeh, biasanya Roli membawa beban material BTS kurang-lebih 5 ton untuk diboyong menuju distrik-distrik di Pegunungan Bintang.

Baca: Pemerintah Siap Gandeng Swasta dan BUMN Wujudkan Transformasi Digital

Untuk mencapai lokasi, Roli harus melewati lembah gunung yang berkelok-kelok. Selain itu juga harus melewati  hamparan awan yang membuatnya harus putar arah. 

“Bandara itu ada di lembah-lembah gunung atau atas gunung. Kalau bandara lembah anginnya ngelewatin limit pesawat jadi kita enggak bisa masuk biasanya sampe jam 11 siang,” tutur dia.

Menurutnya, hampir semua daerah di Papua memiliki jalur yang ekstrem. Dia mengaku tak pernah memaksakan jika tidak bisa masuk ke wilayah distrik yang dituju dan akan langsung memutarbalik pesawat.

(LDS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id