Panic Buying Berawal dari Lingkungan

    Candra Yuri Nuralam - 23 Maret 2020 07:29 WIB
    <i>Panic Buying</i> Berawal dari Lingkungan
    Warga mengantre untuk membeli beras dan gula pasir saat digelar operasi pasar murah di halaman Kantor Bulog Jatim, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu, 21 Maret 2020. Foto: Antara/Zabur Karuru
    Jakarta: Ketua Pusat Krisis Universitas Indonesia (UI) Dicky Pelupessy menilai faktor lingkungan menjadi salah satu penyebab masyarakat membeli barang secara berlebih atau panic buying. Publik terhasut memborong suatu barang karena omongan teman.

    "Panic buying tanpa disadari karena tekanan di lingkungan. Sebagai makhluk sosial kita menjadikan orang lain sebagai dasar penilaian, kita mengandalkan itu untuk bertahan hidup," kata Dicky di Gedung Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jalan Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, Minggu, 22 Maret 2020.

    Menurut dia, manusia selalu berusaha menyesuaikan tindakan agar sama dengan orang lain. Hal itu dilakukan agar diterima lingkungan sekitarnya. 

    Selain itu, kebanyakan orang berpikir virus korona (covid-19) sebagai peperangan yang mungkin bisa menimbulkan krisis ke depan. Virus ini dipersepsikan sebagai musuh tak terlihat.

    "Infeksinya (korona) bisa ke siapa saja dan kapan saja dan di mana saja," tutur dosen Fakultas Psikologi itu.

    Masyarakat, jelas dia, ketakutan kehabisan bahan pangan. Rasa panik ini membuat masyarakat cenderung membeli barang secara berlebihan.

    "Secara psikologis virus korona menguatkan pikiran kita dengan kematian, ketika kita diingatkan dengan hal itu maka orang bisa lebih impulsif termasuk membeli barang. Orang dengan uang lebih bisa membeli barang lebih banyak," ucap Dicky.

    <i>Panic Buying</i> Berawal dari Lingkungan
    Grafis Medcom.id
     

    Pengendalian

    Dicky menilai pikiran masyarakat harus berada di ambang batas normal untuk mencegah panic buying terus berlangsung. Publik wajib terus mengontrol kecemasannya.

    Warga, kata dia, harus tetap rasional. Jika perlu, publik bisa membuat daftar kebutuhan sebelum berbelanja.

    Baca: Jokowi Terbitkan Inpres soal Realokasi Anggaran Penanganan Korona

    "Tipsnya adalah dengan cerdas belanja, belilah keperluan yang diperlukan untuk keluarga dengan waktu tertentu yang rasional atau sesuai kebutuhan," tutur Dicky.

    Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia itu meminta masyarakat menghilangkan sikap egois. Sikap ini dapat memancing seseorang menimbun bahan pokok.

    "Harus diingat yang mencari bahan pokok bukan hanya anda, tapi banyak orang lainnya," ujar Dicky.



    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id