AJI: Laporan Wawancara Kursi Kosong ke Polisi Berlebihan

    Fachri Audhia Hafiez - 11 Oktober 2020 15:11 WIB
    AJI: Laporan Wawancara Kursi Kosong ke Polisi Berlebihan
    Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan dalam program Crosscheck #FromHome by Medcom.id.
    Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menilai laporan wawancara jurnalis Najwa Shihab dengan kursi kosongke polisi berlebihan. AJI memandang tidak ada yang salah dengan wawancara tersebut.

    "Kalau dibawa ke polisi berlebihan. Jangan menciptakan preseden orang bersuara karena kritis langsung dipolisikan," kata Ketua Umum AJI Abdul Manan dalam program Crosscheck #FromHome by Medcom.id bertajuk 'Bangku Kosong Najwa, Apa yang Salah?', Minggu, 11 Oktober 2020.

    Menurut Abdul, wawancara yang dilakukan Najwa sebagai bagian dari memadukan sebuah kerja jurnalis dan program televisi. Dia tak sependapat bahwa yang dilakukan Najwa sebagai cyber bullying.

    "Pejabat publik digaji dari pajak uang rakyat. Jadi dia harus punya kerelaan untuk menjadi sorotan," ucap Abdul.

    Rangkaian pertanyaan yang dilontarkan Najwa dipandang sebagai bagian dari kerja jurnalis. Pertanyaan tersebut untuk menemukan jawaban yang dibutuhkan publik.

    "Karena salah satu prinsip wartawan kan skeptisisme yang harus selalu menguji ucapan yang diberikan oleh narasumber," ujar Abdul.

    Baca: Pelapor Wawancara Kursi Kosong Penggemar Najwa Shihab

    Abdul mengatakan keberatan terhadap sebuah kegiatan pers lebih tepat diadukan ke Dewan Pers. Cara tersebut akan mengungkap benar atau tidaknya wawancara yang dilakukan Najwa melanggar kode etik jurnalistik.

    "Saya akan hormat kalau Bu Silvia meneruskan proses ke Dewan Pers. Kita menyerahkan saja ke Dewan Pers untuk menilai dari aspek etiknya," ucap Abdul.

    Wawancara Najwa Shihab dengan kursi kosong itu viral di media sosial. Wawancara ditujukan untuk Terawan yang tidak memenuhi undangan Najwa tentang pandemi virus covid-19.

    Buntut wawancara tersebut, Najwa sempat dilaporkan oleh relawan Jokowi Bersatu karena dianggap sebagai cyber bullying kepada Terawan. Namun, laporan itu tidak diterima kepolisian karena disinyalir masuk dalam ranah jurnalistik yang diatur Undang-Undang Pers.

    (JMS)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id