Film Pendek Untukmu Agamamu dan Untukkulah Agamaku, Sarat Pesan Toleransi

    Gervin Nathaniel Purba - 29 Oktober 2020 20:53 WIB
    Film Pendek Untukmu Agamamu dan Untukkulah Agamaku, Sarat Pesan Toleransi
    Pesan mengenai pentingnya merawat toleransi disampaikan melalui film pendek berjudul Untukmu Agamamu dan Untukkulah Agamaku (Foto:Dok.Metro TV)
    Jakarta: Pemuda turut berperan besar dalam sejarah bangsa ini, bahkan sejak sebelum kemerdekaan. Pemuda tak hanya mengangkat senjata melawan penjajah, mereka juga turut menyatukan bangsa ini melalui Sumpah Pemuda.

    Pada masa kemerdekaan, pemuda terus berkontribusi dalam pembangunan dan kemajuan bangsa. Salah satu pilar berbangsa yang harus senantiasa dirawat ialah persatuan dan kesatuan. Toleransi beragama, menghargai dan menghormati perbedaan, menjadi kuncinya.

    Berbicara toleransi, kehidupan masyarakat di Singkawang, Kalimantan Barat, layak dijadikan contoh. Tiga etnis besar hidup berdampingan di sana, yakni suku Tionghoa, Dayak, dan Melayu.

    Rasa saling menghormati konsisten dijaga sejak dahulu. Norma-norma tersebut terus diajarkan kepada anak muda, karena anak muda memegang peranan penting untuk menjaga keharmonisan sebagai generasi penerus.

    Dalam menjaga dan mengingatkan kembali rasa toleransi, banyak cara yang bisa dimanfaatkan anak muda pada era kemajuan tekonologi ini. Salah satunya melalui film pendek.

    Seperti yang dilakukan oleh para pelajar SMAN 3 Singkawang. Mereka mengomunikasikan pentingnya merawat toleransi melalui film pendek, berjudul Untukmu Agamamu dan Untukkulah Agamaku.

    Film tersebut menceritakan, walau beda suku dan agama, namun mereka sadar akan artinya perbedaan. Mereka tidak percaya akan berbagai hal yang bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

    Era digitalisasi ini menjadi anugerah bagi anak muda untuk memanfaatkan media dan media sosial menyampaikan pesar toleransi. Apalagi, bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, di mana anak muda diingatkan kembali mengenai persatuan dan cinta terhadap Tanah Air.

    Dibandingkan pada zaman dulu, jauh sebelum era digitalisasi, tantangan untuk menjaga toleransi juga cukup besar. Terlebih belum adanya teknologi untuk menghidupkan  media digital dalam menyampaikan pesan secara cepat.

    "Peran pemuda pada era digital ini sangat penting, karena para kreator bisa menumpahkan kreativitasnya dalam internet," kata Pelajar SMAN 3 Singkawang, Elisse Nur Alfira.

    Bagi sebagian pelajar SMAN 3 Singkawang, Sumpah Pemuda dimaknakan sebagai momentum penyatu bangsa. Momentum untuk anak muda dari berbagai daerah untuk mempererat rasa persatuan dalam tantangan menghadapi kemajuan teknologi.

    "Makna Sumpah Pemuda sebagai penyatu bangsa yang menghubungkan dari berbagai daerah, sehingga tercipta toleransi antarsesama," kata Pelajar SMAN Singkawang, Alessandro.

    Pada era teknologi digital sekarang ini, untuk menyampaikan pesan toleransi secara lebih luas dibutuhkan dukungan internet. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) memenuhi ketersediaan jaringan internet di seluruh Indonesia. Termasuk di daerah 3T (tertinggal, terdepan,  terluar) dan perbatasan.

    Berbagai wilayah pelosok dan perbatasan telah merasakan manfaat ketersediaan jaringan internet. Terutama pada saat pandemi saat ini. Produktivitas masyarakat tetap terjaga dengan mengandalkan internet.

    (ROS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id